16 October 2012

Rancu

Antara pencitraan dan rasa simpati, sesungguhnya beda tipis.
Sulit untuk dibedakan
Aku rasakan itu
Antara benar-benar merasa bersalah
Ataukah karena tidak mau mencoreng patung indahku di mata orang
Benar-benar licik
Orang anggap aku apa sekarang
Lagi-lagi semuanya berpusat pada citra diri
Ingin diagungkan
Manusia memang tetap manusia yang ingin dituhankan

Aku sering keliru
Jadi rancu antara kedua hal ini
Aku jadi terdiam sendiri
Membatu karena rancu

13 October 2012

Hidup di Jakarta

Hidup di Jakarta resiko jadi gila. Jadi stress stadium 4.

Jakarta oh.. Jakarta
"Apa sih yang bener di sini?" pikir seorang anak SMA swasta di rumahnya bilangan Jakarta Pusat, tepatnya di kamar orang tuanya dan sedang sendirian.

MRT? udah mau dibangun, tapi mentok gara-gara kurang dana tuh katanya.
Macet adalah isu biasa. Kalau jalan di Jakarta lancar itu pasti menandakan bahwa hari itu adalah hari lebaran, atau lagi ada demo besar-besaran di istana negara.

Kotanya ga bener, yang tinggal juga sama.

Supir kopaja kupingnya udah kesumpel sama polusi. Mereka jadi budek dan kebal sama bunyi klakson yang nan nyaring bunyinya. Bus itu dengan santai menutupi jalur utama di jalan sempit macem jalan di pasar baru. Coba ke sana jam 6 dan rasakan nikmatnya paduan suara yang sahut menyahut tiada henti. Ingin naik bus atau naik bajaj atau nyari angkot? Yang perlu dilakukan ada;ah berdiri di pinggir jalan terus ngacung-ngacung tangan, pasti ada kendaraan umum yang menghampiri. Bahkan sekarang ga perlu ngacungin tangan dan tinggal berdiri doang, mereka akan berinisiatif dengan sendirinya menawarkan jasa antar dalam sekejap. Keren kan Kota Jakarta?

Halte bukan tempat buat orang menunggu bus, malah dibuat kamar bagi tuna wisma atau jadi tempat strategis buat pedagang bakmi. Mampir deh di dekat rumahku, ada bakmi enak (murah juga) dan lokasinya persis di halte itu. Halte digunakan sebagai tempat duduk bagi penikmat bakmi itu.

Ceritaku belum selesai. Aku sebagai konsumen mobil pendek ingin complain. Mentang-mentang mobil sekarang tinggi-tinggi jangan dong mengganti lampunya jadi lampu yang aneh-aneh, yang putih lah atau terangnya hampir menyamai matahari. Lampu mobil sekarang tuh kaya lampu sorot yang ada di konser-konser penyanyi taraf internasional. Kalau sedang berada di depan atau di belakang mobil lampu sorot itu, hiperbolanya kaya adegan Saulus yang dibutakan. Silaunya minta ampun. Jadi tolong hargai sedikit kami, para pengguna mobil sedan.

Lalu soal kendaraan umum yang terkenal dengan bus berwarna merah oranye atau abu-abu itu, tidak perlu kusebutkan namanya. Aku kaget ternyata bus itu bisa menurunkan di jalan, dan bukan di halte. Kata orang itu sih gara-gara dia sudah terlambat dan tempat kerjanya persis di sebelah kanan bus. Aku hanya geleng-geleng dalam hati. Aku lihat muka co-driver (aduh tidak tahu apa sebutan untuk orang yang menjaga pintu di bus) yang pasrah. Aku tidak menyalahkan sepenuhnya pada tindakan dari co-driver dan driver nya yang memutuskan untuk membuka pintu itu. Orang itu juga salah. Dia memaksakan kemauannya di atas kebijakan yang rapuh. Hancurlah kebijakan itu jika ditindas.

Mau nyicipin neraka skala kecil ga? Jam 6 sore ke halte bus merah oranye di harmoni. Padetnya sudah tidak bisa disampaikan lagi dengan kata-kata. Kesesakan tidak sampai di situ, di dalam bus juga padat seperti lagi di dalam kaleng sarden. Bau di dalam bus sedap banget. Bayangkan semua keringat, bau badan dan bau parfum tak jelas bercampur jadi satu. Ah.. Tidak mau aku membayangkannya.

"Mau buat SIM ya?" bukan itu pertanyaannya. Pertanyaannya itu adalah "punya duit berapa buat bikin SIM?". Jangan tersinggung loh, tapi memang banyak dari pembuatan SIM begitu kan? Ada paketnya lagi kayak di restoran cepat saji yang menawarkan buy one get two atau menu hemat kali ya namanya.

Gini ini manis pait tinggal di Jakarta. Mau tidak mau ya harus mau terima hehe :)
Kapan-kapan kalau aku punya cerita menarik lainnya, tidak akan kusimpan sendiri. Pasti kubagikan buat kalian juga kok.

21 September 2012

Manusia yang Tidak Dimanusiakan

Latar situasi : Pelajaran Geografi
Lokasi : Sekolahku, Kemayoran, Jakarta Pusat

Aku sedang belajar demografi. Demografi itu hubungannya dengan kependudukan. Entah sejauh apa ngalur ngidul dengan guru Geografiku, akhirnya membahas UMR di Jakarta.

UMR (Upah Minimum Regional). Masalah yang tiada ujung pembahasannya. Ada yang merasa puas, ada juga yang merasa tidak adil. Ada yang merasa diuntungkan, ada yang merasa tidak dimanusiakan. Pasti pada akhirnya ada yang harus dikorbankan karena suatu kepentingan.

Awalnya, guruku, Pak Junius, bertanya 'menurut kalian, gaji minimun seseorang berapa?' ada yang bilang 2,5 juta. Aku tidak sependapat. Aku menjawab dalam hati 1,1 juta. Pak Jun menghitung kotor di papan tulis seseorang dengan gaji 2,5 juta. Menurut perhitungan kami, satu hari dapat 30.000 (kurang lebih). Itu sih masih lumayan. Lalu, Pak Ajun bilang 'UMR di Jakarta itu 700.000'. Yang dihitung-hitung, sehari dapat jatah 17.000 (kalau aku tidak salah). Kalau penasaran, kalian boleh coba hitung sendiri.

Rasanya ingin menangis. Sungguh. Aku terdiam sejenak. Pikiranku melayang-layang di udara, menyusuri rumah-rumah di pinggir rel kereta api sampai bantaran sungai. Aku tidak mengira UMR di Jakarta, ibukota nan megah Indonesia, begitu rendah. Mereka, pekerja buruh, seorang manusia, tetapi tidak diberikan hak sebagai 'pribadi' manusia. Aku tidak dapat membayangkan 700.000 untuk satu bulan hidup. Uang sewa rumah, makan, obat, transport, belum lagi kalau punya anak banyak dan untuk urusan sekolah mereka. Bisa gila hidup di kota.

Dan perlu tahu 700.000 itu adalah UMR di Jakarta, kota besar yang katanya maju dan moderen. Bagaimana dengan UMR di daerah pelosok di Indonesia? Juga setiap penyimpangan dalam pelaksanaan UMR? Semakin dipikirkan, semakin pilu. Nyeri seperti ribuan jarum siap menusuk badanku. Aku ingin membantu, tetapi aku kembali dihalangi oleh ingatan 'Gue cuman anak kelas 11 doang'. Sekarang bukan waktunya, mungkin nanti .

Aku hidup di sebuah kotak puzzle yang isinya ribuan keping. Dan sekarang aku sudah sudah menemukan satu keping dari sekian ribu. Satu keping itu memberikan petunjuk kehidupan manusia yang penuh intrik. Kehidupan itu yang mulai memperlihatkan batang hidungnya di hadapanku dalam proses, tidak tahu itu panjang atau pendek.

20 September 2012

Serasa Mau Nyoblos Beneran

Teman-temanku lucu. Mereka bak tim sukses bapak mantan walikota Solo yang sukses itu, Pak Jokowi. Ada saja saat untuk membicarakan pidato calon gubernur. Bapak berperawakan kurus, tetapi ramah dan kalem itu. Bahkan hampir setiap guru yang masuk ke dalam kelasku, 11 SOS, 'dipaksa' dengan lembut untuk memilih calon gubernur favorit mereka itu.

Sungguh lucu. Padahal hanya dua temanku yang sudah bisa mencoblos. Sebenarnya ada tiga, tapi yang satu ini tidak legal. Jadi aku tidak tahu juga dia bisa ikut berpartisipasi atau tidak. Mereka, tepatnya salah seorang dari mereka (kupikir), telah mempengaruhi aku dan teman sekelas. Kami sudah disihir.

Serasa aku sudah saatnya untuk mencoblos saja. Terus dijejalkan semua kelemahan dari lawan idola teman-temanku.

Para pahlawan '45 terus menyuarakan kemerdekaan. Kalau kelasku, mereka juga dengan semangat '45 menyuarakan motto 'Jakarta Baru' milik Pak Jokowi - Basuki, lengkap dengan dialog dan kronologi adegan dalam final cagub di suatu siaran tv swasta. Mereka menghapal setiap dialog dengan fasih dan sangat baik, seperti sedang menunggu detik-detik ulangan harian di sekolah. Lebih  fasih daripada mereka menghapal rumus matematika yang menjadi bahan ulanganku.

Saat ini sepertinya 'semua' anak sibuk mengkampanyekan idola mereka. Mulai dari anak SMP sampai anak SMA. Bukan cuma kelasku saja loh. Tumben. Jarang terjadi hal seperti ini. Mungkin dulu juga aku tidak pernah memperhatikan karena masih bocah. Tapi kurasa kali ini beda. Tidak seperti pilkada lainnya.

Ada semangat, juga pengharapan akan masa depan kota Jakarta ini.

Tinggal beberapa saat lagi, mereka akan tersenyum lebar atau kecewa setengah mati. Aku juga berharap sih mereka akan tersenyum lebar sambil memamerkan gigi-gigi mereka sampai kering. Sangat malah.