Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

08 January 2014

Bukan Cuman Manusia yang Bisa Galau

Manusia emang sering banget nge-galau. Masalahnya macem-macem, mulai dari level kacangan sampe yang tingkat tinggi juga ada. Manusia bisa galau karena bingung milih baju yang mana buat dipake jalan, bingung milih es krim apa yang enak buat dicoba hari ini. Manusia juga bisa galau gara-gara jomblo dan ga ada kerjaan di malming. Bisa galau juga gara-gara sepatu baru beli kena injek orang. Bisa galau karena krisis ekonomi yang begitu mencekik perut dan otak. Bisa galau karena masalah keluarga yang begitu pelik. Kalo mau di list down semuanya, bisa-bisa setaon lebih ga kelar. Poinnya adalah banyak banget hal bisa dijadiin ramuan galau buat manusia.

Tapi ternyata, manusia bukanlah satu-satunya makhluk yang bisa merasakan kehampaan hati loh. Berdasarkan pengalaman serta penelitian seorang remaja perempuan yang super atraktif dan aktif yang pasti lu tau karena dialah pembuat tulisan yang sedang lu baca ini, ia baru menyadari kelainan yang terjadi pada binatang peliharaannya yang lucu setelah ia kembali dari liburan di Jawa selama dua minggu lamanya. Pasalnya, si Bilbil terlihat sangat tak bersemangat ketika kembali ke rumah. Yah.. Emang sih pas pertama kali menginjakan 4 kaki mungilnya itu, dia kelihatan giras banget. 

Cuman, gue liat akhir-akhir ini dia kaya linglung. Kehilangan gairah hidup. Kalo diibaratin jadi orang tuh, orangnya lagi ngelamun skala panjang. Badannya sih di sini, cuman nyawanya di tempat lain. Di rumah temen gue. 

*waktumundur*

Gue dan keluarga ceria gue sedang kebingungan nyari tempat buat Anjing Keluarga (sebutan sayang) ini singgah. Berhubung kalo nitip di petshop akan menghasilkan angka nominal yang cukup besar, maka berputarlah otak kami buat menanyakan kebersediaan temen-temen dekat kami untuk memberikan tempat singgah bagi minipincer berwarna coklat ini. Dari sekian banyak tawaran yang kami berikan, cuman temen gue satu ini yang badannya bunder tapi baik hati sekali seperti suster (apaan sih) yang bersedia. 

Lalu, dibawanyalah Bilbil ke "rumah baru". Ternyata, semua anjing teman gue dimasukkan ke dalam kandang. Awalnya, gue ga tega banget ngeliat kandang yang kecil bener, mana itu kandang harus sharing lagi sama anjing laen. Pasti Bilbil stres banget gara-gara ruang geraknya sangat terbatas, padahal kalo di rumah gue, dia bisa lari maraton sesuka hati. Tapi, bokap temen gue bilang kalo bakal lebih baik ada temennya dikandang supaya si Bilbil nya ga terlalu kaget dan stress. 

Sudah selesai membicarakan cara Bilbil makan dan lain sebagainya. Kami pamit. Mobil gue melaju keluar pekarangan rumah teman gue yang baik hati itu dengan bulu-bulu rontok anjing Bilbil yang masih tertinggal seakan belum mau berpisah.

 *waktunormal*

Eh.. Ga nyaka si Bilbil masih meninggalkan separuh nyawanya di "rumah baru" itu. Bukan cuman gue yang omong Bilbil makin hari makin lemes, nyokap gue juga berpikiran hal yang sama. Kami berkesimpulan bahwa Bilbil kangen sama sahabatnya yang walaupun bukan satu ras tetapi telah menjadi teman seperjuangannya di "rumah baru". 

Liat deh betapa lesunya anjing gue. Kerjaannya cuman makan, tidur, sama kencing. 
Kondisi terakhir Bilbil
Pukul: 12.10
Lokasi: Tempat tidur sebelah ranjang gue
Dia berhasil melunakkan hati gue sehingga
gue yang sebenernya jijik banget kalo anjing naek ranjang,
dengan terpaksa ngasih dia ranjang nganggur itu buat tidur.
Ini mata Bilbil yang paling ampuh menarik perhatian kami.
Tatapan yang bikin gue tersentuh dan meluluhkan semua kejijian gue (gambar pertama).
"Gaya Tidur Kesukaan"
"Bonus Picture"
Penelitian singkat ini punya sebuah pelajaran yang dapat dipetik. (Entah apa yang merasuki gue, tulisan gue akhir-akhir ini, selalu ada moral of the story nya. Kaya kudu ada banget). Manusia tuh wajar kok buat galau soal masalah ini dan itu. Manusia ga akan pernah bisa lepas ataupun kabur dari masalah. Itu emang udah kodrat dari Tuhan. Cuman, ada yang namanya mup on. Masih ada dunia yang menantikan dirimu kembali bersinar, bergairah, dan bersemangat!

Anjing aja ada masa sedihnya kok, manusia juga pasti ada :)

07 December 2013

Pergi ke Monas dengan Papa

Gue tau yang muncul dibenak kalian pertama kali baca judul post gue. Ga banget kaya karangan anak sd soal liburan sekolah. Hehe. Tapi sorry abis karna otak gue lagi ga bisa mikir berat- berat buat nyari yang padat dan berbobot.

Gue langsung aja ya ke ceritanya. Sebenernya jadwal gue hari ini itu bukan pergi ke Monas, harusnya gue bakal menganggur di rumah, bermalas-malas di kasur sambil nonton film, menimbun lemak di rumah. Tapi, bokap malah (sengaja) ngajak pergi karna di Monas lagi ada pawai keraton apa gitu. Gue diem aja tanpa memberikan perlawanan atas ajakan itu.

Akhirnya capcus nyampe sana, kedatangan gue disambut dengan kubu-kupu biru sangat menawan terkapar di jalanan. Baru pertama kali gue nemuin kupu-kupu beneran dan megang secara langsung. Sebenernya gue takut debu-debu dari sayapnya bakal mematikan gue, tapi alhasil gue bawa pulang juga itu kupu-kupu tak bernyawa. (ini beneran paragraf curhat 100%)

Setelah mendatangi poster berisi susunan acara, gue melihat bahwa gue sama bokap gue salah hari. Harusnya tuh besok baru ada carnavalnya. Mau apa dikata, gue sudah dateng ke sana, sayang juga kalo langsung pulang. Gue berkeliling sebentar di halaman Monas.

Gue baru menyadari kalo udah cukup lama gue ga ke monas untuk sekadar mengucapkan selamat pagi pada langit dan matahari (asik). Ada banyak tanah yang digembur di sana-sini, gue ga tau istilahnya pokoknya tanahnya dipermak gitu deh. Gue melihat banyak perubahan yang udah Pak Jokowi-Ahok lakukan buat bikin Jakarta lebih enak dijadiin tempat tinggal. Contohnya acara-acara kaya gini, yang ga cuman bisa dinikmatin kalangan atas atau bawah, tapi semuanya bisa ngumpul jadi satu di sini. 

Kaya ada hawa hero berlabuh dan menetap di Jakarta.

Terus gue mikir. Nelson Mandela baru saja dipanggil Tuhan. Dunia kehilangan satu pahlawan. Tapi, bukan berarti ga ada lagi pahlawan yang lahir dan mempertunjukkan aksinya. Sukarno, pahlawan kebebasan Indonesia, memang sudah meninggal puluhan tahun lalu. Tapi, itu bukan akhir dari segalanya. Sekarang kita punya kok sosok pahlawan yang nyata. Pahlawan itu lahir dan berada di tengah-tengah kita, orang Jakarta.

04 August 2013

Cahaya Sedang Main Petak Umpet Denganku

Tidak tahu virus apa yang menyerangku dan beberapa temanku. Satu hal yang kutahu ini virus kutukan. Entah apa yang membuatku terjangkit penyakit ini, tetapi kira-kira mulai dari Mei awal. Ya, itu si virus Malas Menulis yang tidak tertahankan. Aku disibukkan dengan seseorang yang sekarang resmi menjadi spesial dalam hidupku, sehingga tidak sempat mencari obat untuk penyakit akut ini. Namun, dia semakin menjadi-jadi.

Diperparah dengan hidupku yang kurvanya sedang naik turun #mengenalkanduniaips. Aku kehilangan passionku. Cahayanya telah redup remang-remang. Aku seperti manusia planet antah berantah. Aku bisa hanya duduk di kasur dan diam saja. Benar-benar persis orang idiot. Bahkan aku tidak ingat apa yang kupikirkan saa aku duduk diam di atas kasur selama beberapa waktunya yang dapat dikatakan cukup lama.

Hey, kamu, cahayaku. Kamu berkewajiban untuk menuntunku, menerangi passion ku, memberi dorongan untuk selalu bertanya dan selalu heran akan setiap hal dengand detil. Dimana kau sekarang? Aku membutuhkanmu di sini. Aku sudah selesai menghitung. Aku tidak mau main lagi denganmu. Kembalilah ke dalam hidupku. Aku sudah tidak mau main petak umpet denganmu. Tidak akan mau lagi. Nanti kamu beneran pergi dan tidak kembali.

14 July 2013

Jakun adalah masa depan

Sudah terlalu lama gue ga menyentuh blog. Rasanya jadi agak kaku dengan pembaca. So, pada kesempatan ini, gue cuman mau kasih liat yang namanya kebanggaan buat gue (konteks: sekarang)

Ceritanya foto ini dapat tercipta ketika gue ikut berpatisipasi di dalam sebuah acara yang diadakan oleh Fisip. Namanya Fisip Summit. Ini adalah kedua kalinya gue ikut acara Fisip Summit. Sebelumnya, gue juga nulis mengenai Fisip Summit 2012.

Oiya... Dari tadi gue belum kasih tahu apa sih kepanjangan dari jakun? Jakun di sini bukanlah apel yang dimakan sama Adam dan nyangkut di lehernya. Tapi kepanjangannya Jakun adalah jaket kuning yang dimiliki oleh Universitas paling kece, Universitas Indonesia.

Setiap peserta diberikan gelang sesuai dengan kelas yang dipilih mereka. Gue pilih HI-SOS. Teman gue ANTROP-KOM.

Tangan gue (hijau) dan tangan temen gue. Kebetulan dia juga menulis tentang fisip summit kali ini.

Seperti yang telah katakan sebelumnya, gue emang udah pernah sekali ke fisip summit. Tapi yang membuat fisip summit kali ini beda dan lebih meninggalkan kesan adalah yang satu ini nih. Jadi yang di bawah ini namanya hasil foto dari kamera polaroid, kalau teman-teman sekalian belum pernah lihat atau belum pernah dengar. Yang sekali jepret langsung jadi.

Ada kakak-kakak UI yang nyari dana membuka semacam photo booth simple gitu deh. Kostumnya itu jakun. Pas pertama kali ditawarin, gue gak mau karena kondisi ga mendukung: lagi sama tim gue sehingga membuat gue mengurungkan niat buat foto. Secara yang lain kaya pada diem dan ga tertarik. Kalo gue sendiri ya foto, bakal jadi model dadakan gue diliatin mereka.

Terus, pas gue pulang duluan, gue liat meja kakak-kakak itu sepi. Gue mikir bakal sayang ngelewatin kesempatan buat foto. Mumpung sepi juga. Akhirnya gue berhasil membujuk diri sendiri dan (juga) temen gue untuk ke sana.

Pada akhirnya, gue ga nyesel tuh foto di sana. Dapet ini deh


Nah selain dapet foto itu, gue juga boleh foto sepuasnya pake kamera ato hape ato apapun lah. Berhubung teman punya ipod, ga boleh disia-siakan kotak musik canggih miliknya. Dan inilah hasil editan apik teman gue.



Memang mereka bilang hanya sebuah jaket. Tapi ini adalah kebanggaan. Ini mimpi gue. Mimpi yang bakal gue kejar setahun lagi! Tahun depan gue bakal pake jaket itu lagi dengan status: milik pribadi, BUKAN pinjaman. 

22 March 2013

Perjalanan dan Kado Untuk Sang Musafir Hawa

Tulisan ini berbicara tentang bagaimana perjalanan panjang seorang pemudi untuk mendapatkan sebuah KTP, sebuah identitas kebangsaannya. Yang perlu digarisbawahi adalah perjalanannya yang seorang diri saja. Hanya dia, niat dan kemauan.

Awal cerita dimulai dari meminta tanda tangan ketua RT, ketua RW, membawa data ke kantor lurah, sampai akhirnya proses pemfotoan diri. Ia lakukan semua sendiri. Tidak sekali ia datang ke rumah ketua RW untuk mendapat tandatangannya. Perlu tiga kali karena ketua RW yang dicari sedang tidak berada ditempat. Dan yang paling sulit dilupakan adalah hari ini. Mari.. Kurunut kronologisnya.

Kedatangan pertama kali ke kelurahan
Pakai celana pendek kotak-kotak. Langkah mantap dan semangat. Jalan kaki menuju kantor lurah. Matahari belum di tengah kota. Dari jauh melihat papan nama gedung. Masuk ke halaman gedung dengan agak merasa diri sang musafir keren. Namun, setelah masuk kantor, raut wajah berubah menjadi agak bodoh dan polos. Bertanya kepada seseorang di dekatnya perihal dimana ruangan membuat KTP. Kaget serta tak dapat berkata-kata, saat musafir ini tahu bahwa tidak boleh masuk ruangan dengan tanpa memakai celana panjang. Pulang ke rumah dengan keringat mengucur cukup deras, padahal baru saja mandi.

Kedatangan kedua kali ke kantor lurah
Mengenakan jeans panjang. Langkah mulai goyah. Menempuh rute dan kendaraan yang sama (berjalan kaki maksudnya) ke kantor lurah. Matahari mulai mengeluarkan sengatnya. Berhasil masuk ruangan dengan selamat. Menunggu. Berbicara dengan ibu-ibu, tidak tahu dia staf atau orang biasa. Sang musafir hawa duga, dia bekerja di sana. Kembali dikejutkan dengan apa yang dikatakan ibu tadi, perlu bawa akte lahir atau ijazah SMP. Sedangkan musafir ini hanya tahu perlu bawa surat dari ketua RT-RW dan Kartu Keluarga. Terpaksa pulang. Pulang lagi dengan kucuran (sekarang) deras keringat dan dengan kesia-siaan yang dibawanya. Bertemu dengan kakak sang musafir yang bingung. Musafir bercerita singkat. Segera pergi meninggalkan kakaknya dengan wajah masih bingung. Naik ke kamar orangtua sang musafir. Mengobrak-abrik kamar dengan tergesa-gesa, tanpa merapikannya. Makan po*ky, sambil mengademkan diri di depan kipas angin. Siap berpetualang lagi.

Kedatangan ketiga kali ke kantor lurah
Wajah sudah tebal melihat ekspresi orang-orang bingung melihatnya bolak-balik melewati gang. Berjalan dengan lelah, tidak lupa juga keringat. Tidak ingat, entah matahari langsung membakar kulitnya atau awan menyelamatkan kulitnya yang sudah gelap. Memasuki kantor lurah. Langsung duduk tanpa izin. Bertanya dengan berani apa yang sedang ia tunggu. Tidak kaget ketika tahu ia harus menunggu. Saat itu pukul 09.58. Orang yang mengurus KTP sedang rapat dan akan kembali pukul 11 siang. Musafir memilih untuk menunggu. Memasang earphone di telinganya. Mengambil buku 'Sup Gibran' dari dalam tas. Membuat diri senyaman mungkin. 10 menit berlalu. 20 menit. 30 menit. 35 menit. Ia mulai sulit membuka mata. Pandangannya kabur karena dilanda kantuk. Pukul 10.35. Seseorang bicara padanya, rapat akan selesai pukul 3. Ia juga duga begitu. Pulang dengan sia-sia dan dengan membawa nomer telepon kantor lurah dan dengan earphone yang masih menempel di telinga. Jalannya sudah tidak lurus. Kakinya berat karena mengantuk.

Kedatangan keempat kali ke kantor lurah
Menelpon kantor lurah pukul 2 kurang. Dari telepon tahu bahwa pertugas sudah bisa diajak bekerja sama. Mengenakan pakaian yang sama. Pergi dengan langkah semantap pertama kali. Berjalan dengan earphone yang setia menemani. Kali ini tanpa bawa buku dan tas. Malas dengan pernak-pernik tidak penting. Ke sana, ya untuk KTP saja. Yakin kali ini adalah kedatangan yang terakhir kalinya. Matahari sudah lelah menyinari bumi. Energinya sudah tidak sekuat tadi. Ramai di ruang mengurus KTP. Bertemu ibu itu lagi. Tebakan sang musafir hawa benar soal kedatangan kali ini. Sang musafir hawa langsung ditanyai petugas. Difoto. Juga ditanyai petugas apa tidak puas dengan fotonya dan ingin mengulang. Sang musafir dengan mantap berkata tidak. Ingin cepat selesai. Disuruh meletakkan jempolnya ke alat sensor sidik jari, lalu menekan jempolnya. Musafir hawa mengakhiri dengan bertanya kapan ia dapat KTP-nya. Akhirnya yang ditunggu-tunggu. Selesai juga. Pulang dengan hati senang. (Yang ini tambahan saja. Pergi ke Indo***et. Menghadiahkan dirinya sendiri sebungkus keripik dan permen kenyal, setelah menempuh perjalanan yang panjang. Tanpa pikir gendut dan batuk.)

E-M-P-A-T kali. Sang musafir empat kali ke kantor lurah (bolak-balik) dalam satu hari. Panjang bukan harinya? Ya. Memang benar panjang dan melelahkan. Namun, sang musafir malah berpikir lain. Ia pikir perjalanan ini seperti kado ulang tahun ke-17 dari keluarahan tersebut. Menyadarkannya dan membuatnya melihat diri sudah dewasa. Sudah seharusnya bisa menyelesaikan masalah sendiri dan mandiri. Itu kado yang ia dapat dari perjalanannya hari ini. Usia 17 tahun dan KTP adalah tanda bahwa ia perlu bersiap-siap menghadapi dunia dan realita yang jauh berbeda dengan dunianya dan lingkungan sekolahnya.

Perjalanannya masih belum selesai karena kedatangan keempat kalinya bukanlah kedatangan yang terakhir. Senin depan, sang musafir hawa akan pergi sekali lagi ke kantor lurah dan akan benar-benar resmi memiliki kebangsaan dan tercatat dalam buku arsip kependudukan bahwa ia ada di bumi Indonesia, berlokasi di Jakarta, kota yang selalu melek, Ibukota Tanah Airnya. Dan pula bukti bahwa pemudi ini asli made in Indonesia.

Setelah tahu betapa panjang perjalanan yang telah dilalui, ia bangga.

Saya bangga.

Puisi Cinta (Seenaknya) Gue

Ini puisi cinta
Gue sih sebutnya puisi
bukan kacangan
bukan gombalan garing
bukan romantis-romantisan

Ini namanya cinta
usia beda jauh atau dekat ga jadi soal
ras beda kaya langit dan bumi ga ada urusan
namanya juga cinta

cinta yang menutup mata menjadi katarak setebal dosa
tompel sebesar apapun akan menjadi eksotis

cinta itu gula alami Tuhan yang cipta
puyer dengan senyumannya sama dengan jus alpukat dari surga
Ha-Ha

cinta itu olahraga jantung
cinta paksa jantung bekerja 3 kali lebih keras
bahkan SEPULUH kali mungkin
siapa tahu?

kalau lagi kasmaran,
cinta itu obat anti-mengantuk paling mujarab sedunia
dosis kafeinnya melebihi segalon teh dan kopi tubruk pekat

itu semua cinta remaja
masih ringkih
ditiup semut, runtuh berantakan jadinya

tapi yang sama dari semua kalangan penikmat cinta adalah
cinta itu guru
melatih untuk mengalah
menekan ego
saling percaya
dan yang paling utama adalah setia

03 March 2013

Ada Apa Dengan Microsoft Word Kosong?


Guru ekskul gue yang juga adalah teman seusia gue yang juga adalah kakak senior gue menyadarkan bahwa sebenernya Microsoft Word yang kosong itu menakutkan dan menyeramkan. Suwer deh. Gue makin dipaksa nulis, makin mampet. Microsoft Word seperti memaksa gue lewat pikiran. Gila. Kenapa baru sadar sekarang ya? Dia sekarang udah berani dan mampu melawan Ms Word kosong tersebut. Gue juga harus bisa!

23 January 2013

cuek menjadi perlu

di dunia ini, di sekitar kita, banyak hal ga perlu diketahui
ga perlu dicari tahu
ga butuh juga untuk dicari tahu

semua itu baru disadari setelah gue tahu hal-hal yang ga perlu diketahui
memang benar
sebenarnya ga penting buat gue tau
tapi kenapa harus kepo dan bersikeras buat tahu hal itu?
informasi itu cuman nyusahin, menyita waktu, membuyarkan fokus gue untuk hampir segala aspek kehidupan remaja menjelang kedewasaan ini
bahkan, terkadang itu malah menyakitkan lu sendiri
bodoh ga sih?
pengen tahu sesuatu, tetapi sesuatu yang udah pasti bakal nyakitin perasaan elu

gue sadari satu hal
cuek itu ternyata ada gunanya juga
untuk kasus macam gini
butuh banget yang namanya cuek
ga usah liat kanan kiri omong apa
biarin aja
tutup kuping lu dan jalan terus
jangan mau diganggu sama urusan yang bukan menjadi porsi lu untuk tahu

09 January 2013

Takut Bego Kelamaan Libur

Semua ini berawal dari chat sama temen soal kemalasan menghadapi hari esok, hari dimana gue harus memanggul tas berat dan beban pikiran ke sekolah. Haha. Gue bilang sama dia 'takut bego kelamaan libur', tanpa mikir panjang-panjang secara gue lagi kena virus males di masa liburan. Terus gue mikir-mikir lagi soal apa yang gue omongin ke temen gue ini. Bener ga sih? Coba ikutin jalan pikiran gue, ga butuh tenaga banyak buat mikir kok.

Kerjaan gue liburan itu tidur, makan, nonton, mandi, ke toilet, ngobrol, online ga jelas, menguntit orang di twitter (haha ketauan deh.. Ati-ati ya sama orang yang udah gue follow). Udah gitu doang. Bahkan gue ga meluangkan waktu libur untuk baca satu aja buku cerita sampe abis. Gue nonton film sepanjang hari. Running man, dan film berkualitas lainnya kaya... Parah. Gue aja ga inget udah nonton film apa aja selama liburan, satupun ga gue inget! Liatkan bahayanya kalo liburan makin diperpanjang?

Bisa-bisa tiga minggu lagi, gue udah ga bisa baca. Ini bagian yang dihiperbola. Tapi gue serius, gue takut jadi bego karena ga mikir yang susah dan rumit. Walaupun terkadang masuk sekolah mengandung unsur-unsur yang merepotkan gue, menyiksa otak gue, dan kaya lagi jambakin rambut gue sampe rontok. Tetap aja, kalo kelamaan libur malah bikin gue jadi kaya susah konsen gitu. Kemaren-kemaren, gue diajakin omongin ngobrolan berat, langsung cengok. Kalo di film tuh, otak gue mengalami konsleting hebat sampe ada kilat-kilat keluar dari rambut gue.

Jadi, bagus deh sekolah lagi. Paling enggak ada yang manasin otak gue biar ga bego dan tulalit karena kelamaan bercengkrama dengan rutinitas yang tidak sehat dan efisien :)

Boleh dong sekali-sekali ga sebel, bete, atau galau, karena libur telah habis dan waktu-waktu menyenangkan penuh kegilaan bareng teman lu di sekolah tinggal beberapa jam lagi?

Ayo semangat sekolah!

11 November 2012

Otakku Memikirkan Sesuatu

Sudah di depan komputer, siap mengambil ancang-ancang menulis, tetapi sekarang ga bisa ngapa-ngapain. Salah. Maksud gue ga tahu mau ngapain. Gak ada hal istimewa yang membuat gue bangga menyampaikannya

Pengen nulis. Bingung mulai dari mana.

Banyak tugas menumpuk berlebihan. Tetapi gue tiada pernah kapok begadang semalaman. Gue mencapai rekor baru nih. Tidur cuman sejem dua puluh menit pas hari jumat. Bodohnya tugas gue masih belum selesai. Akhirnya gue kumpul tugas hari sabtu (dikurangin dua poin) gara-gara saking ngantuknya pas jumat malem dan ga kuat buat melanjutkan tugas esai 3000 kata.

Banyak hal yang harus gue pikirkan sekarang ini. tetapi malas buat cari ide-ide keren. Salah satunya karena gue terlalu manjain otak gue, sehingga sekarang pas lagi dibutuhkan otak gue nge-drop kaya alien di CJ7 yang kehabisan kekuatan.

Bentar lagi uas semester satu. Dan gue berasa hari gue di sekolah semakin cepat saja. Gue berasa belum belajar banyak selama satu semester ini.

Gue orang yang ga menyenangkan untuk diajak bertukar pikiran. Gue tidak merasakan hal itu dari dulu. Akhirnya baru-baru ini gue baru sadar dan ga menyangkali lagi bahwa gue itu orang yang beraliran negativisme dan pesimitisme (kalo ada). Gue gampang menyerah, memandang dari sisi negatif.

Liat deh dari tulisan ini saja, sudah keliatan unsur negatif. ya kan?
Kalau kalian tidak percaya. Tanyakan saja pada teman-teman yang sudah mengenal gue sedari dulu kala. Mereka yang tahu.

Rasanya enak bisa nulis apa aja kaya gini. Seneng. Dan kaya dapet hiburan. Bisa ngalur ngidul. Gak ada alur. Ga perlu mikir soal kalimatnya bener atau enggak, efektif apa enggak, nyambung apa enggak, aneh apa enggak, bagus apa enggak, inspiratif atau enggak, penting atau enggak, kapan klimaks muncul dan muncul anti-klimaksnya, ada gagasan utamanya atau enggak. Apa aja yang ada di otak gue sekarang, bisa gue keluarin sebebas-besasnya dengan cara sesuka hati gue. Karena di dalam tulisan gue, gue lah tuhannya. Gada yang bisa ngatur gue dengan syarat-syarat penulisan yang benar sesuai KKBI. Gue bukan reporter, jurnalis, atau apapun itu yang terkekang pada syarat penulisan-penulisan artikel. Saat ini sih bukan.

Gue berusaha menikmati sepuasnya di masa sekarang-sekarang ini. Gue tahu ga selamanya gue bisa kaya gini terus kan? Kerjain apapun sesuai selera dan waktu gue. Dunia ga seindah masa sma dan seindah tulisan bebas gue di blog. Mereka ga bisa toleransi sama orang-orang yang kelemat kelemot. Yang lamban. Yang ga bisa taat sama aturan mainnya dunia. Orang-orang macem gitu bakal punya dunia sendiri atau terekskomunikasi dengan sendirinya seiring waktu. Singkat kata, dibuang.

Gue benci konsisten. Jauh tuh jarak antara konsisten dan hidup gue. Sungguh hidup ini dihidupi dengan perjuangan dan proses yang panjang.

Yang perlu gue lakukan sekarang adalah menyakinkan diri gue sendiri bahwa "gue mampu menjalaninya!"

07 November 2012

Ini Namanya Depresi Anak Sekolahan


Hari ini aku menjadi tidak jelas. Kondisi hatiku naik-turun. Semua bikin aku gila. Baru kali ini aku merasakan hal ini. Ngantuk tak tertahankan. Sedih. Kesal. Marah. Putus Asa. Semuanya berlomba-lomba memenangkan hatiku. Aku ingin jambak rambutku sendiri sampai habis. Mungkin sinyal kewarasanku semakin buram.

Aku butuh liburan. Sungguh satu hari tanpa harus memikirkan hal-hal kompleks ini cukup buatku. Aku bisa mati sinting kalau hari-hariku terus berjalan seperti ini. Tidak ada anti-klimaksnya.

Entah sampai kapan masa kegelapan ini akan hilang dari hidupku.