Showing posts with label Realita. Show all posts
Showing posts with label Realita. Show all posts

02 February 2014

What Angels are Doing in Sunday Nights

Agak kontroversial emang kalo gue bilang malaikat. Tapi, kayanya Tuhan baik banget sama gue sampai mau ngutus malaikatnya buat ngirimin chat berantai dari sebuah aplikasi pesan. Kayanya sekarang malaikat itu lagi sibuk nge-forward pesan itu deh :).

Someone has written these beautiful lines. Read and consider the deeper meaning of the phrases.

1. Prayer is not a "spare-wheel" that you pull out when in trouble, but it is a "steering-wheel" that directs the right path throughout life.

2. Why is a car's windshield so large and the rear view mirror so small? Because our PAST is not as important as our FUTURE. So, look a head and move on.

3. Friendship is like a BOOK. It takes a few seconds to burn, but it takes a years to write.

4. All things in life are temporary. If they are going well, enjoy them, they will not last forever. If they are going wrong, don't worry, they cant last long either.

5. Old friends are gold! New friends are diamond! If you get a diamond, don't forget the gold! To hold a diamond, you always need a base of gold!

6. Often when we lose hope and think this is the end, God smiles from above and says, "Relax, sweetheart; it is just a bend, not the end!"

7. When God solves your problems, you have faith in His abilities; when God doesn't solve your problems, He has faith in YOUR abilities.

8. A blind person asked God: "Can there be anything worse than losing eye sight?" He replied: "Yes, losing your vision!"

9. When you pray for others, God listens to you and blessed them, and sometimes, when you are safe and happy, remember that someone has prayed for you.

10. Worrying does not take away tomorrow's troubles; it takes away today's PEACE.

12 May 2013

apa yang kita punya, belum tentu adalah apa yang membuat kita bahagia
-Ev. Maya Sianturi

03 March 2013

Ada Apa Dengan Microsoft Word Kosong?


Guru ekskul gue yang juga adalah teman seusia gue yang juga adalah kakak senior gue menyadarkan bahwa sebenernya Microsoft Word yang kosong itu menakutkan dan menyeramkan. Suwer deh. Gue makin dipaksa nulis, makin mampet. Microsoft Word seperti memaksa gue lewat pikiran. Gila. Kenapa baru sadar sekarang ya? Dia sekarang udah berani dan mampu melawan Ms Word kosong tersebut. Gue juga harus bisa!

27 February 2013

Dimensi Kehidupan

Gue kira hidup anak SMA cuman gitu-gitu aja. Ya di rumah, hang-out, nonton bareng, sekolah, main, dan kembali ke rumah, dan akan terus seperti itu. Gue kira hidup anak SMA bakal ya gini dan ga akan lebih dari ini. Menyenangkan, tapi flat.

Ternyata mereka punya dimensi yang lain, yang baru gue sadari sekarang. Mereka punya cara sendiri untuk  mewarnai kehidupan. Ada yang penuh dengan bulu babi, tajam-tajam, penuh bahaya, tetapi katanya sih menantang. Ada juga yang penuh dengan kapas, yang empuk dan memanjakan. Banyak sekali jenisnya.

Dunia gue itu kecil banget. Kalau dihiperbolakan tuh, kaya gumbalan debu di galaksi bima sakti. Itulah luasnya dunia, bahkan lebih lagi.

Untuk Kak Christo

Sabtu dan menganggur. Gue ga kenal dia siapa. Sama sekali. Tapi terus gue ngeliat ada seseorang yang gue tahu di UI nge-ReTweet sesuatu yang aneh. Kira-kira dia omong gini "gue terharu baca ini. Cepet sembuh ya, To! (terus ada linknya gitu)" Muncul radar stalker gue tiba-tiba. Lalu, gue buka link tersebut. Link itu mengantar gue ke sebuah perjalanan kisah yang mengharukan.

Ia adalah mahasiswa UI yang mengalami kejadian naas saat perjalanan menuju kampus. Itu bulan Desember, dan sekarang masih dalam proses penyembuhan, karena emang kecelakaan itu berakibat fatal buat fisiknya Kak Christo. Untungnya cepat ditangani dokter. Sampai sekarang sih berita yang gue baca dari blog, dia sudah baik-baik. Kalau mau tahu lebih jelas, coba deh baca ini, Teorema pagi namanya. Dan ini pesan-pesan dari teman-temannya kak Christo yang pernah bosan kasih dukungan buatnya di rumah sakit. Ada beberapa memo yang bikin mata gue berkaca-kaca. Beneran berkaca-kaca. Antara benar-benar tersentuh jadi berkaca-kaca, atau karena terbawa suasana, entahlah yang mana.

Sesuatu yang gue tangkap dari bacaan di dalam blog itu adalah ketulusan hati seorang teman. Gue terharu ngeliat temen-temen Kak Christo yang berusaha keras buat bantu biaya pengobatannya, yang gue yakin ga kecil. Bayangin aja Ka Christo perlu operasi buat tempurung kepalanya, dan nanti untuk tulang belikatnya yang patah. Yang pasti itu butuh biaya yang besar. Temen-temen Kak Christo ga habis akal buat bantuin Kak Christo. Mulai dari jual buku berisi puisi dan tulisannya Kak Christo, mug, tas ramah lingkungan, sampai buat acara musik gitu. Gue yakin itu bukan pekerjaan yang mudah. Namun, gue rasa setiap tetesan keringat yang mereka keluarkan, air mata yang telah tercucur dan kata-kata semangat yang tidak pernah berhenti keluar dari mulut mereka demi untuk kepulihan teman mereka. Keren banget ga sih? Ini gue kira baru yang namanya pertemanan sejati.

Gue mau beli buku itu dan juga menulis soal Kak Christo karena gue ngeliat kerja keras temen-temen Kak Christo yang ga main-main. Gue ngehargain banget :)
Good job kakak-kakak!
Dan cepet sembuh ya, Kak Christo! Walaupun gue ga kenal dan ga tau elu. Gue tau bahwa lu dikelilingin sama  temen-temen yang baik dan super care sama elu. Kalo lu udah sembuh sepenuhnya, keliatannya lu perlu peluk temen lu satu-satu, kak. Semangat ya!

23 January 2013

cuek menjadi perlu

di dunia ini, di sekitar kita, banyak hal ga perlu diketahui
ga perlu dicari tahu
ga butuh juga untuk dicari tahu

semua itu baru disadari setelah gue tahu hal-hal yang ga perlu diketahui
memang benar
sebenarnya ga penting buat gue tau
tapi kenapa harus kepo dan bersikeras buat tahu hal itu?
informasi itu cuman nyusahin, menyita waktu, membuyarkan fokus gue untuk hampir segala aspek kehidupan remaja menjelang kedewasaan ini
bahkan, terkadang itu malah menyakitkan lu sendiri
bodoh ga sih?
pengen tahu sesuatu, tetapi sesuatu yang udah pasti bakal nyakitin perasaan elu

gue sadari satu hal
cuek itu ternyata ada gunanya juga
untuk kasus macam gini
butuh banget yang namanya cuek
ga usah liat kanan kiri omong apa
biarin aja
tutup kuping lu dan jalan terus
jangan mau diganggu sama urusan yang bukan menjadi porsi lu untuk tahu

07 November 2012

Arti Menangis


Menangis kadang kala jadi solusi
Menangis itu menenangkan
Kegundahan akan tertuang sampai habis hanya dengan beberapa butir air mata
Sungguh aku tidak bohong

Menangis membuat hati seperti baterai terisi kembali
Suasana hati membaik
Dan menangis membuatku siap hadapi musuh sebesar apapun
Kali ini aku tidak akan mundur lagi
Aku akan terus maju
Sampai lawanku mundur ketakutan

Menangis beda dengan cengeng
Menangis adalah luapan emosi yang tertahan
Cengeng adalah sebutan untuk orang yang hanya bisa menggerutu dan diam saja

Aku pikir menangis itu ada keindahannya tersendiri

21 September 2012

Manusia yang Tidak Dimanusiakan

Latar situasi : Pelajaran Geografi
Lokasi : Sekolahku, Kemayoran, Jakarta Pusat

Aku sedang belajar demografi. Demografi itu hubungannya dengan kependudukan. Entah sejauh apa ngalur ngidul dengan guru Geografiku, akhirnya membahas UMR di Jakarta.

UMR (Upah Minimum Regional). Masalah yang tiada ujung pembahasannya. Ada yang merasa puas, ada juga yang merasa tidak adil. Ada yang merasa diuntungkan, ada yang merasa tidak dimanusiakan. Pasti pada akhirnya ada yang harus dikorbankan karena suatu kepentingan.

Awalnya, guruku, Pak Junius, bertanya 'menurut kalian, gaji minimun seseorang berapa?' ada yang bilang 2,5 juta. Aku tidak sependapat. Aku menjawab dalam hati 1,1 juta. Pak Jun menghitung kotor di papan tulis seseorang dengan gaji 2,5 juta. Menurut perhitungan kami, satu hari dapat 30.000 (kurang lebih). Itu sih masih lumayan. Lalu, Pak Ajun bilang 'UMR di Jakarta itu 700.000'. Yang dihitung-hitung, sehari dapat jatah 17.000 (kalau aku tidak salah). Kalau penasaran, kalian boleh coba hitung sendiri.

Rasanya ingin menangis. Sungguh. Aku terdiam sejenak. Pikiranku melayang-layang di udara, menyusuri rumah-rumah di pinggir rel kereta api sampai bantaran sungai. Aku tidak mengira UMR di Jakarta, ibukota nan megah Indonesia, begitu rendah. Mereka, pekerja buruh, seorang manusia, tetapi tidak diberikan hak sebagai 'pribadi' manusia. Aku tidak dapat membayangkan 700.000 untuk satu bulan hidup. Uang sewa rumah, makan, obat, transport, belum lagi kalau punya anak banyak dan untuk urusan sekolah mereka. Bisa gila hidup di kota.

Dan perlu tahu 700.000 itu adalah UMR di Jakarta, kota besar yang katanya maju dan moderen. Bagaimana dengan UMR di daerah pelosok di Indonesia? Juga setiap penyimpangan dalam pelaksanaan UMR? Semakin dipikirkan, semakin pilu. Nyeri seperti ribuan jarum siap menusuk badanku. Aku ingin membantu, tetapi aku kembali dihalangi oleh ingatan 'Gue cuman anak kelas 11 doang'. Sekarang bukan waktunya, mungkin nanti .

Aku hidup di sebuah kotak puzzle yang isinya ribuan keping. Dan sekarang aku sudah sudah menemukan satu keping dari sekian ribu. Satu keping itu memberikan petunjuk kehidupan manusia yang penuh intrik. Kehidupan itu yang mulai memperlihatkan batang hidungnya di hadapanku dalam proses, tidak tahu itu panjang atau pendek.

06 July 2012

This world isn't that bad kok

Kembali lagi gue menemukan orang-orang baik di dunia. Gue juga pernah nulis di blog lama gue yang temanya sama : Polisi Baik.

Kemaren gue nemenin oma ke dokter buat konsultasi kaki oma gue sakit. Terus pas gue masuk ruangan, dia sedang menelpon nci-nci yang keliatannya kerabatnya sedang kritis. Cukup lama tuh gue dianggurin. Celingak celinguk doang gue. Tapi gue ga jadi gondok gara-gara dokternya ramah banget. Baik banget. Berasa kaya ion-ion positif bertebaran seiring ia berbicara. Terus yang jarang, dia nanya tentang gue sekolah dimana. Waw banget ga sih? Gue tau itu cuma obrolan basa-basi belaka. Namun, itu yang menurut gue yang namanya ramah.

Berikutnya, supir angkot. Gue temenin oma gue ke tanah abang. Pulangnya gue naek angkot karena emang jalurnya pas banget ngelewatin gang rumah gue. Apa yang si Abang lakukan sampai gue terbuai? Simpel kok. Dia memperlakuakan penumpang dengan manusiawi. Dia nurunin orang dalam keadaan mobil angkot itu berhenti sepenuhnya (kalo yang jahat tuh ya, kita belom turun semua kaki kita, udah jalan kali tuh mobil). Terus dia sopan omongnya sama penumpang. Dia memastikan kembali orang mau turun dimana. Simpel banget ya kan? Tapi ga semua supir angkot bisa ngelakuin hal itu loh.

Gue curhat gini tentu ada tujuannya. Buat orang yang selalu negative thinking sama dunia ini, come on lu harus liat sekitar loe. Banyak juga orang yang berhati mulia dan baik kok. Jangan terlalu pesimis sama dunia dan manusia di dalamnya :)
Coba buat dirilu tersenyum dan lebih bersemangat, ntar pasti dunia jadi berubah. Percaya deh.

27 April 2012

Diberi lebih karena memberi lebih

Judul yang saya berikan di atas dekat kaitannya dengan: melakukan sesuatu lebih dari ekspektasi. Kalau melihat dari kalimatnya, kita sudah membayangkan hal-hal yang mengawang di udara dan sulit digapai oleh orang semacam kita. Akan tetapi, saya dapat melihat dengan tindakan pekerja rumah tangga yang dibekerja di rumah saya. Walau hal yang kecil, tetapi saya bisa liat ketulusan hatinya dalam bekerja.

Weits biar ngerti kesinambungan antara judul dan kalimat 'melakukan sesuatu lebih dari ekspektasi', mari membaca  tulisan berikut ini. Jika kita melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang diperintahkan, suatu saatnya nanti kita akan menuai hasilnya. Kita akan diberi lebih oleh seseorang karena telah memberikan yang paling baik dalam melakukan segala sesuatu. Mungkin, pemberian itu berupa respect dari orang lain, nilai tambah pada diri, dan lain sebagainya.

Saya akan mulai bercerita soal pembantu rumah tangga di rumah saya. Dia seorang pembantu part-time, kerennya disebut begitu karena memang hanya bekerja dari jam 5 pagi sampai jam 9an. Bisa dong dibilang part-time job

Awalnya, saya merasa bahwa ia sama seperti pekerja yang lain, yang hanya bekerja jika disuruh saja. Namun, terlihat perbedaannya setelah beberapa bulan ia bekerja. Mama bilang tanpa disuruh, mbak saya ini sudah langsung mencuci setiap gelas yang terlihat di meja makan. Kadang gregetan sih, tetapi itu menurut saya menandakan keuletan yang berlebihan pada seorang pekerja rumah tangga.

Lalu, yang tidak disangka-sangka juga, ia membersihkan pegangan tangga, padahal biasanya selalu kotor dan diabaikan. Mbak saya bersihkan sampai mengkilat. Juga, rak pakaian saya yang amburadul karena tidak pernah saya tata, dirapikan sendiri tanpa ada perintah dari atasannya.

Yang saya tulis di atas memang hal yang seujung jari. Tetapi tidak tahu kenapa, saya menjadi begitu menghormati dia walau statusnya sebagai pekerja rumah tangga. Saya memang tidak memberikan reward berupa piagam ataupun piala untuknya, tetapi saya memberikan rasa hormat dan kagum padanya lewat bagaimana saya berbicara padanya dan tindakan saya terhadap dia. Walaupun, kata sebagian orang, pembantu adalah pekerjaan yang rendah.

Mbak saya tidak mengharapkan pujian atau kenaikan gaji saat melakukan hal tersebut. Itu keyakinan saya. Dan hal tersebut membuat saya lebih lagi menganggap keberadaannya daripada pekerja yang bekerja di rumah saya terdahulu, karena ia patut menerimanya. 

29 October 2011

Who cares about them?

“Tidak ada seorang anak yang ingin dilahirkan bersama virus mematikan di dalam tubuhnya
Mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan dengan penyakit yang mereka idap
Mereka masih kecil dan polos untuk mengerti kesulitan ini
Dengan orangtua yang telah dipanggil karena mengidap virus yang sama.”

Mereka yang saya maksud adalah anak yatim piatu karena orangtua mereka terserang penyakit AIDS.
Saya menonton sebuah dokumenter singkat di ChannelNewsAsia. Film itu membahas singkat hidup anak, bisa dibilang cukup beruntung, mengidap penyakit HIV dan masih ada yang merawat.

Berikut dua kisah anak yatim piatu di kampung China.

Yang pertama adalah anak perempuan sekitar umur 7 tahun. Dia cenderung memiliki sifat memberontak karena bingung bagaimana harus menghadapi penyakit ganas sebatang kara. Saya kurang tau siapa yang merawatnya. Tapi, ia punya seorang kakak perempuan yang tidak mengidap penyakit HIV. Calon suami kakak anak itu tidak tahu soal masalah penyakit HIV yang diidap anak perempuan itu. Kakaknya juga tidak berniat memberitahu karena takut calon suaminya membatalkan pernikahan yang berada di depan mata.

Dan yang kedua adalah anak lelaki, mungkin sekitar umur 3 tahun. Melihat anak kecil yang polos. Lucu. Tetapi ada kepedihan mendalam dalam hatinya. Ia terlihat sering bermain sendiri. Anak ini dirawat oleh orangtua asuh, sepasang suami-istri dengan sukarela menerima anak-anak asuh. Tetapi orangtua asuhnya memang tidak begitu mampu sehingga dia ‘dioper-oper’ ke orangtua asuh lain yang berniat merawat anak kecil itu

Saya tidak terlalu mengerti sih bagaimana mereka hidup karena keterbatasan bahasa saya(hehe). Tapi yang saya tau, dibagian akhir film itu tertulis kira-kira seperti ini

Ini adalah kisah anak yang beruntung mendapatkan donasi asing dari sekian banyak penderita HIV/AIDS di bawah umur. Masih ada ribuan anak di luar sana yang butuh pertolongan.

Mungkin saat ini kita masih belum mampu memberikan donasi karena belum menghasilkan uang. Kita bisa bantu lewat doa.

Tuhan, tolong mereka yang sedang hidup memprihatinkan, terutama anak-anak penderita HIV/AIDS. Kiranya Engkau memberikan pengertian atas segala cobaan dan kekuatan untuk mengalahkan kegentaran mereka. Supaya ada sukacita berlimpah dalam hidupnya.

Selipkan saja kata-kata ini dalam doa kalian.

11 September 2011

Kebiasaan yang paling bikin gregetan

Kebiasaan orang Indonesia, tepatnya orang Jawa tulen adalah..... kalo jalan lama betuul. Ga tahan nunggu di belakangnya. Rasanya pengen minggirin tuh badan orang biar ga nutupin jalan. Dan itu yang kedua, setelah jalan kaya putri Solo malah nutupin jalan orang. Beh... ga enak banget deh.  Yang parah tuh ye kalo masi muda, jalan uda kaya nenek seratus taon (hiperbola). Oke, jujur emang kalo lagi asik ngobrol ama temen di jalan bisa ampe ga kerasa nutupin jalan orang. Tapi sebaiknya, kita punya kepekaan terhadap kenyamanan orang lain kan?

Dan yang satu lagi ngekiin kalo ngantri, banyak maunya. Bukan maksud buka aib. Tapi ini nih sangat mengganggu kesejahteraan umum seperti yang tertulis di UUD 1945. Please bisa kan mikirin orang laen yang ada di belakangnya.

Kalo jalan lama-lama juga lu rugi waktu plus rugiin orang. Untungnya apa coba? Kaki jadi ga lebih cape kah? Ga juga deh. Dan ini bukan berarti lu harus jogging di mall supaya ga ngerugiin orang. Bukan itu purpose gue nge-post ini. Cuman kesadaran supaya mikirin orang lain aja. ;D

Emang simpel. Tapi dari hal se simpel kertas dilipet pun, orang tau gimana lu idup, efisien ato lemot-lemotan.

23 June 2011

Mulut Untuk Sepotong Kejujuran yang berduri

Wah... Indonesia bolehlah cukup bangga dengan tindakan Siami yang masih memiliki kejujuran, patut diacungi dua jempol. Ya, saya saja bangga walau melihat dari kejauhan. Siapa sangka ada seorang wanita yang mempunyai nyali besar untuk berkata atas nama kebenaran? 

Kalau Anda masih belum menyambung dengan topik yang saya bicarakan. Saya akan menjelaskan singkat tentang ibu bertempat tinggal di Surabaya, Kecamatan Tandes ini. Permasalahan yang membawa petaka bagi keluarga Ibu Siami ini berawal dari niat baiknya, untuk melaporkan tindakan tidak pantas seorang guru. Bukan tindakan asusila, tetapi memaksa anak muridnya untuk memberi contekan pada murid lain saat UN. Anak itu bernama Al, anak Ibu Siami. Setelah menyebarkan berita tersebut, warga heboh tak karuan mendengar hal itu. Karena tidak terima, mereka mendemo rumah Siami. Tidak sampai di situ, Siami di usir paksa oleh warga sekitar dengan amarah yang meluap beserta caci maki mereka. Siami menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud dan menyangka juga permasalahan ini sampai diketauhi seantero negri. Ia hanya ingin keadilan dan kejujuran dari anaknya, Al.  Sampai saat ini, penyelesaian masalah masih belum tuntas. Tentunya diharapkan keluarga Siami tidak dirugikan dan dapat menjalani kembali hidup mereka dengan tenang.
(Dari sumber terpercaya: Om Google, setelah berita-berita disaring)

Sekarang dunia memang lagi terbalik. Yang jahat dipelihara baik-baik, dan baik didepak jauh-jauh. Lihat tindakan Siami dan perlakuan warga kampung terhadapnya. 

Coba tengok ibu rumah tangga tadi, ia mungkin tidak bersekolah tinggi seperti Anda sekarang ini. Tapi dari tindakannya yang berani itu, menandakan bahkan seorang yang biasa aja bisa melakukan tindakan besar. Dan sekaligus membuktikan bahwa Indonesia masih hidup di dalam kejujuran. Kalau saya berada diposisi Siami, mungkin saya tidak memiliki keberanian sebesarnya dan tetap diam. Memalukakan memang, saat menyadari kita membiarkan ‘kejahatan’ ini terus berlanjut dan mengakar di dalam hati manusia Indonesia. Tapi itulah yang terjadi sekarang. Dan kita perlu melanjutkan pekerjaan Siami, menjunjung tinggi kejujuran sebagai manusia beradab. 

Berkata jujur memang kadang menyakitkan hati dan menyusahkan raga, kejujuran yang berduri.