Dulu tidak begini. Dulu rumah selalu ramai. Banyak orang lalu-lalang. Ada emak, papa, mama, adik mama, cici, koko, aku, dan anjing peliharaan. Ada 18 kaki yang melangkah di rumah tanpa henti. Rumah kami tidak pernah berhenti menahan beban kaki-kaki kami. Rumah tidak pernah lelah untuk menjadi tumpuan bagi kami. Kalau bisa tersenyum, rumah akan meluangkan waktu untuk tersenyum walau sudah babak belur seharian.
Sekarang berbeda. Hanya ada empat kaki yang melangkahi lantai rumahku.
Rumah begitu lenggang. Rumah terasa sepuluh kali lebih luas. Rumah terasa seratus kali lipat lebih dingin. Tidak ada kehangatan. Rumah sudah tidak memiliki kekuatan seperti dahulu karena tidak pernah dilatih menahan beban.
Rumah begitu sunyi. Hanya suara mesin air dan anjingku yang menemani rumah setiap hari. Tidak lagi ada suara bising yang aku rindukan sejak lama, yang dulu sungguh ingin aku hilangkan dari peradaban dunia. Aku rindu mendengar kebisingan di rumah. Aku rindu mendengar gelak tawa seluruh anggota keluarga di rumah.
Sekarang. Aku pergi ke kampus sampai larut. Orang tuaku pergi bekerja sampai senja. Terkadang papaku berada di rumah dan menghabiskan waktu di lantai kedua tanpa menghiraukan. Ciciku berada di luar kota dan menetap sementara di sana. Kokoku belajar di luar kota. Adik mama telah menikah dan hidup dengan suaminya. Emakku menemani sepupu tinggal di luar kota.
Kami sibuk dengan kehidupan kota yang kami miliki.
Tidak ada yang menyadari bahwa rumahku kesepian.
Tapi tak disangka, anjingku sama kesepiannya dengan rumahku. Tidak ada yang mengajak bermain. Kerjanya hanya makan, tidur dan menunggu kedatanganku agar bisa diajak bermain. Namun, usahanya selalu gagal. Aku selalu terlelap sebelum mau dan niat untuk berlari-larian dengannya.
Kasihan mereka. Kasihan mereka yang ditinggalkan kami. Mereka berjalan dengan waktu. Namun, kami dikejar oleh waktu. Itulah yang membedakan kami.
Di sini tempatku merebahkan raga dan membangunkan jiwa. Kalau ada senggang, mari minum teh dan makan kudapan sore bersama.
Showing posts with label Tulisan seni. Show all posts
Showing posts with label Tulisan seni. Show all posts
30 September 2014
08 February 2014
The Left Eye
close your left eye, sometimes
use the right one
you can still see the world
even you can look at the world better than with your two eyes
with different perspective
clearer one
you think
with two eyes
you can see wider
no no no
you are wrong
you make a big mistake
ignore the left eye for sometime
now
or you"ll drowning not in your world
but in someone's world
forever
To be honest with you
I often use that eye
and it drown me deep down below
use the right one
you can still see the world
even you can look at the world better than with your two eyes
with different perspective
clearer one
you think
with two eyes
you can see wider
no no no
you are wrong
you make a big mistake
ignore the left eye for sometime
now
or you"ll drowning not in your world
but in someone's world
forever
To be honest with you
I often use that eye
and it drown me deep down below
31 January 2014
Mysterious Envelope
Gue hari ini dapet surat aneh. Tadi pagi
tiba-tiba aja, ada surat di depan pintu rumah gue. Gue gatau itu diperuntukkan
kepada siapa. Cuman, feeling gue mengatakan itu surat emang buat gue.
Ini bentuk suratnya
Gue buka suratnya. Isinya pun sama anehnya
kaya luar suratnya. Tulisannya gini:
Hey. Aduh aku mau minta maaf nih. Telat ya
ngasih suratnya? Udah telat seminggu baru kamu terima. Tukang pos kilat khusus
spesial bilang anginnya lagi gak menentu. Susah untuk melihat posisi rumah kamu
dan mendaratkan surat itu. Padahal aku udah nunggu-nunggu hari ketika kamu baca
surat dariku.
Anyway, bukan itu sih yang mau aku omongin di sini. Aku cuma mau kasih
tahu kamu bahwa tahun ini bakal banyak banget kisah yang menantikan kehadiranmu.
Kamu ga usah khawatir. Semuanya udah aku susun bagus banget. Mulai dari
jatuhnya, naiknya, sedih, seneng, pahit, manis, asem. Bah! Mantep. Aku udah
ngeramu itu semua jadi ramuan yang paling kece dan oke deh. Kamu pokoknya harus
percaya sama aku dan Bos aku kalo kami kasih yang paling baik buat kamu. Aku
lembur selama setaun buat ngerjain skenario hidup kamu di umur ke-18.
Serunya ngelebihin tahun lalu. Kamu kan
udah mau lulus. Kamu bakal masuk ke hidup anak kuliahan. Itu kan yang kamu
nanti-nantikan? Wihiihi. Gak bisa bayangin muka seneng kamu pas nanti
menginjakkan kaki pertama kali ke tempat kuliah kamu buat OSPEK. Pasti puzzled campur semangat campur
deg-degan. Kamu kan panikan banget orangnya.
Aku
liat kamu dari atas. Ada yang lagi ganggu pikiran kamu, ya? Kamu tahu kan pantangan kalau
sedih di hari jadi kamu? Ga boleh keseringan galau, nanti rambutmu botak loh.
Sekarang aja udah tipis tuh. Kamu liat deh nanti, apa yang kamu khawatirkan itu
kebanyakan cuman khayalan kamu doang, padahal aku sama Bosku ga pernah tuh buat
jalan cerita kaya gitu.
Oh yang ini ga boleh ketinggalan. Selamat
hari ke-6200! Kamu udah ada di dunia selama itu. Aku sebenernya ga tau mau
bilang selamat atau maaf karena hari-harimu di dunia semakin berkurang. Kamu
harusnya udah tahu itu. Semakin berkurang hari kamu di dunia, semakin cepat
kamu akan bertemu aku dan Bosku. Aku ga sabar nunggunya! Tapi, kita ga bakal
bisa ketemu nih. Aku cuman bisa liat kamu dari kejauhan. Dan kamu.. cuman bisa
liat surat ini doang. Tapi ketemu ga penting ah menurutku. Yang penting hati
kita kan jadi satu. Ya gak?
Yah.. Aku udah diliatin sinis melulu sama
Bosku nih. Saking asiknya nulis surat sampe lupa kerjaan. Aku ada rapat awal
tahun sama aku dari masa lain. Udahan dulu ya. Kamu harus semangat terus, Jes!
Big hugs and kisses
From your future “YOU”
Siapapun dia, orang iseng atau beneran gue di masa depan. Gue cuman mau bilang ”tunggu
gue ya, gue mau buat sesuatu dulu di dunia”.
NB: Kalo penasaran soal kebenaran kisah ini, coba perhatiin labelsnya deh. Gue gamau kasih tahu :P Kalau emang kepo banget dan ga nemu jawabannya, boleh message gue kok. Hehehe
NB: Kalo penasaran soal kebenaran kisah ini, coba perhatiin labelsnya deh. Gue gamau kasih tahu :P Kalau emang kepo banget dan ga nemu jawabannya, boleh message gue kok. Hehehe
03 July 2013
Gila di Dalam Cermin
Rasanya hanya saya yang pernah merasakan
Malu untuk mengatakannya
Saya merasa rendah dan buruk
Saya terlihat baik-baik saja
Tapi di dalam diri ini.
Saya gila
Ada kegilaan di dalam cermin rumah saya
Hanya saya dan Anda yang tahu sekarang
Adakah dari Anda yang juga memendam rasa ini?
Beritahu saya
Beritahu saya bahwa bukan saya seorang diri yang gila di dunia
Yakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja
Bantu saya memecahkan cermin kegilaan itu
Dan lepaskan jiwa saya 'gar bebas menari-nari di atas angin
04 May 2013
Ini Perpisahan
Tak kusangksa secepat dan sependek ini
Semua memori dibiarkan mengambang
Berhenti tanpa ada penutup yang indah
Tampak begitu cepat
Nyatanya memang cepat
Hanya sekedip mata
Engkau jauh di sana
Aku juga jauh di sini
Jarak
Perpisahan yang tidak wajar dan tiba-tiba
Membuatku ingin pergi saja ketika melihatmu
Menambah kepedihan yang sudah tertanam
Ada kau di sini
Hanya mengingatkan semua yang telah terjadi
Semua yang tinggal kenangan
Yang percuma rasanya untuk diingat
Terlalu menyedihkan untuk tahu telah sampai pada ujungnya
Tak terduga
Mungkin memang Tuhan ingin ini
Tuhan ingin berakhir sependek ini
Ketika manusia tidak mengerti rencana-NYA
Biarkan Tuhan yang atur dan mengertikanmu kelak
Aku semakin percaya bahwa kata itu tidak eksis di dunia
Kata yang selalu berusaha kualihkan dari perhatianku
Sekarang kata itu puncak keraguan
Semua memori dibiarkan mengambang
Berhenti tanpa ada penutup yang indah
Tampak begitu cepat
Nyatanya memang cepat
Hanya sekedip mata
Engkau jauh di sana
Aku juga jauh di sini
Jarak
Perpisahan yang tidak wajar dan tiba-tiba
Membuatku ingin pergi saja ketika melihatmu
Menambah kepedihan yang sudah tertanam
Ada kau di sini
Hanya mengingatkan semua yang telah terjadi
Semua yang tinggal kenangan
Yang percuma rasanya untuk diingat
Terlalu menyedihkan untuk tahu telah sampai pada ujungnya
Tak terduga
Mungkin memang Tuhan ingin ini
Tuhan ingin berakhir sependek ini
Ketika manusia tidak mengerti rencana-NYA
Biarkan Tuhan yang atur dan mengertikanmu kelak
Aku semakin percaya bahwa kata itu tidak eksis di dunia
Kata yang selalu berusaha kualihkan dari perhatianku
Sekarang kata itu puncak keraguan
26 March 2013
Menulis Itu
Menulis itu
menenangkan pikiran
memanah hati
memompa otak
melemaskan otot tegang
melatih imajinasi
menghabiskan waktu
melupakan dunia dan realita
menyamarkan maya dan nyata
menguak yang tersembunyi
menyembuhkan
menginspirasi
menyemangati
menguatkan
Untuk sebagian orang...
KTP buatku
Apakah hanya ini makna kedewasaan yang didambakan anak remaja?
Kebebasan inikah?
Sudah 17 lalu apa? Bangga? Merasa sudah menjadi orang paling matang di dunia?
Sekarang, mungkin ya. Itu bukti fisiknya. Tetapi aku yakin, aku akan menemukan jawabannya yang bukan sekadar kasat mata. Kelak. Tahun ini aku dapat satu kosakata baru. Tahun depan pasti juga dapat satu. Begitu seterusnya. Waktunya akan datang. Aku percaya. Aku yang dewasa akan datang Sekarang saatku menikmatinya saja selagi menunggu.
Kebebasan inikah?
Sudah 17 lalu apa? Bangga? Merasa sudah menjadi orang paling matang di dunia?
Sekarang, mungkin ya. Itu bukti fisiknya. Tetapi aku yakin, aku akan menemukan jawabannya yang bukan sekadar kasat mata. Kelak. Tahun ini aku dapat satu kosakata baru. Tahun depan pasti juga dapat satu. Begitu seterusnya. Waktunya akan datang. Aku percaya. Aku yang dewasa akan datang Sekarang saatku menikmatinya saja selagi menunggu.
Terjebak Dalam Diri Sendiri
Rasanya semua orang maju, kok gue malah berjalan mundur ya?
Gumpalan sampah.
Gue terjebak di dalam gumpalan sampah. Gue ga bisa keluar. Ga bisa napas. Bentar
lagi gue ketemu malaikat nih, pikir gue.
Orang lain sudah
mendahului gue di depan. Padahal yang duluan lari gue. Gue ketinggalan jauh.
Gue takut kalah dari mereka. Gue gamau kalah. Gak ngerti kenapa. Mungkin karena
gengsi, gue yang duluan lari, pasti gue duluan mencapai garis finish dong?
Logikanya kan gitu. Tapi, kenapa semua sampah ini ngejar gue sih. Mereka
melahap gue. Menarik gue jauh dari arena. Sekarang gue gak berdaya di bawa
gumpalan sampah.
22 March 2013
Perjalanan dan Kado Untuk Sang Musafir Hawa
Tulisan ini berbicara tentang bagaimana perjalanan panjang seorang pemudi untuk mendapatkan sebuah KTP, sebuah identitas kebangsaannya. Yang perlu digarisbawahi adalah perjalanannya yang seorang diri saja. Hanya dia, niat dan kemauan.
Awal cerita dimulai dari meminta tanda tangan ketua RT, ketua RW, membawa data ke kantor lurah, sampai akhirnya proses pemfotoan diri. Ia lakukan semua sendiri. Tidak sekali ia datang ke rumah ketua RW untuk mendapat tandatangannya. Perlu tiga kali karena ketua RW yang dicari sedang tidak berada ditempat. Dan yang paling sulit dilupakan adalah hari ini. Mari.. Kurunut kronologisnya.
Kedatangan pertama kali ke kelurahan
Pakai celana pendek kotak-kotak. Langkah mantap dan semangat. Jalan kaki menuju kantor lurah. Matahari belum di tengah kota. Dari jauh melihat papan nama gedung. Masuk ke halaman gedung dengan agak merasa diri sang musafir keren. Namun, setelah masuk kantor, raut wajah berubah menjadi agak bodoh dan polos. Bertanya kepada seseorang di dekatnya perihal dimana ruangan membuat KTP. Kaget serta tak dapat berkata-kata, saat musafir ini tahu bahwa tidak boleh masuk ruangan dengan tanpa memakai celana panjang. Pulang ke rumah dengan keringat mengucur cukup deras, padahal baru saja mandi.
Kedatangan kedua kali ke kantor lurah
Mengenakan jeans panjang. Langkah mulai goyah. Menempuh rute dan kendaraan yang sama (berjalan kaki maksudnya) ke kantor lurah. Matahari mulai mengeluarkan sengatnya. Berhasil masuk ruangan dengan selamat. Menunggu. Berbicara dengan ibu-ibu, tidak tahu dia staf atau orang biasa. Sang musafir hawa duga, dia bekerja di sana. Kembali dikejutkan dengan apa yang dikatakan ibu tadi, perlu bawa akte lahir atau ijazah SMP. Sedangkan musafir ini hanya tahu perlu bawa surat dari ketua RT-RW dan Kartu Keluarga. Terpaksa pulang. Pulang lagi dengan kucuran (sekarang) deras keringat dan dengan kesia-siaan yang dibawanya. Bertemu dengan kakak sang musafir yang bingung. Musafir bercerita singkat. Segera pergi meninggalkan kakaknya dengan wajah masih bingung. Naik ke kamar orangtua sang musafir. Mengobrak-abrik kamar dengan tergesa-gesa, tanpa merapikannya. Makan po*ky, sambil mengademkan diri di depan kipas angin. Siap berpetualang lagi.
Kedatangan ketiga kali ke kantor lurah
Wajah sudah tebal melihat ekspresi orang-orang bingung melihatnya bolak-balik melewati gang. Berjalan dengan lelah, tidak lupa juga keringat. Tidak ingat, entah matahari langsung membakar kulitnya atau awan menyelamatkan kulitnya yang sudah gelap. Memasuki kantor lurah. Langsung duduk tanpa izin. Bertanya dengan berani apa yang sedang ia tunggu. Tidak kaget ketika tahu ia harus menunggu. Saat itu pukul 09.58. Orang yang mengurus KTP sedang rapat dan akan kembali pukul 11 siang. Musafir memilih untuk menunggu. Memasang earphone di telinganya. Mengambil buku 'Sup Gibran' dari dalam tas. Membuat diri senyaman mungkin. 10 menit berlalu. 20 menit. 30 menit. 35 menit. Ia mulai sulit membuka mata. Pandangannya kabur karena dilanda kantuk. Pukul 10.35. Seseorang bicara padanya, rapat akan selesai pukul 3. Ia juga duga begitu. Pulang dengan sia-sia dan dengan membawa nomer telepon kantor lurah dan dengan earphone yang masih menempel di telinga. Jalannya sudah tidak lurus. Kakinya berat karena mengantuk.
Kedatangan keempat kali ke kantor lurah
Menelpon kantor lurah pukul 2 kurang. Dari telepon tahu bahwa pertugas sudah bisa diajak bekerja sama. Mengenakan pakaian yang sama. Pergi dengan langkah semantap pertama kali. Berjalan dengan earphone yang setia menemani. Kali ini tanpa bawa buku dan tas. Malas dengan pernak-pernik tidak penting. Ke sana, ya untuk KTP saja. Yakin kali ini adalah kedatangan yang terakhir kalinya. Matahari sudah lelah menyinari bumi. Energinya sudah tidak sekuat tadi. Ramai di ruang mengurus KTP. Bertemu ibu itu lagi. Tebakan sang musafir hawa benar soal kedatangan kali ini. Sang musafir hawa langsung ditanyai petugas. Difoto. Juga ditanyai petugas apa tidak puas dengan fotonya dan ingin mengulang. Sang musafir dengan mantap berkata tidak. Ingin cepat selesai. Disuruh meletakkan jempolnya ke alat sensor sidik jari, lalu menekan jempolnya. Musafir hawa mengakhiri dengan bertanya kapan ia dapat KTP-nya. Akhirnya yang ditunggu-tunggu. Selesai juga. Pulang dengan hati senang. (Yang ini tambahan saja. Pergi ke Indo***et. Menghadiahkan dirinya sendiri sebungkus keripik dan permen kenyal, setelah menempuh perjalanan yang panjang. Tanpa pikir gendut dan batuk.)
E-M-P-A-T kali. Sang musafir empat kali ke kantor lurah (bolak-balik) dalam satu hari. Panjang bukan harinya? Ya. Memang benar panjang dan melelahkan. Namun, sang musafir malah berpikir lain. Ia pikir perjalanan ini seperti kado ulang tahun ke-17 dari keluarahan tersebut. Menyadarkannya dan membuatnya melihat diri sudah dewasa. Sudah seharusnya bisa menyelesaikan masalah sendiri dan mandiri. Itu kado yang ia dapat dari perjalanannya hari ini. Usia 17 tahun dan KTP adalah tanda bahwa ia perlu bersiap-siap menghadapi dunia dan realita yang jauh berbeda dengan dunianya dan lingkungan sekolahnya.
Perjalanannya masih belum selesai karena kedatangan keempat kalinya bukanlah kedatangan yang terakhir. Senin depan, sang musafir hawa akan pergi sekali lagi ke kantor lurah dan akan benar-benar resmi memiliki kebangsaan dan tercatat dalam buku arsip kependudukan bahwa ia ada di bumi Indonesia, berlokasi di Jakarta, kota yang selalu melek, Ibukota Tanah Airnya. Dan pula bukti bahwa pemudi ini asli made in Indonesia.
Setelah tahu betapa panjang perjalanan yang telah dilalui, ia bangga.
Saya bangga.
Awal cerita dimulai dari meminta tanda tangan ketua RT, ketua RW, membawa data ke kantor lurah, sampai akhirnya proses pemfotoan diri. Ia lakukan semua sendiri. Tidak sekali ia datang ke rumah ketua RW untuk mendapat tandatangannya. Perlu tiga kali karena ketua RW yang dicari sedang tidak berada ditempat. Dan yang paling sulit dilupakan adalah hari ini. Mari.. Kurunut kronologisnya.
Kedatangan pertama kali ke kelurahan
Pakai celana pendek kotak-kotak. Langkah mantap dan semangat. Jalan kaki menuju kantor lurah. Matahari belum di tengah kota. Dari jauh melihat papan nama gedung. Masuk ke halaman gedung dengan agak merasa diri sang musafir keren. Namun, setelah masuk kantor, raut wajah berubah menjadi agak bodoh dan polos. Bertanya kepada seseorang di dekatnya perihal dimana ruangan membuat KTP. Kaget serta tak dapat berkata-kata, saat musafir ini tahu bahwa tidak boleh masuk ruangan dengan tanpa memakai celana panjang. Pulang ke rumah dengan keringat mengucur cukup deras, padahal baru saja mandi.
Kedatangan kedua kali ke kantor lurah
Mengenakan jeans panjang. Langkah mulai goyah. Menempuh rute dan kendaraan yang sama (berjalan kaki maksudnya) ke kantor lurah. Matahari mulai mengeluarkan sengatnya. Berhasil masuk ruangan dengan selamat. Menunggu. Berbicara dengan ibu-ibu, tidak tahu dia staf atau orang biasa. Sang musafir hawa duga, dia bekerja di sana. Kembali dikejutkan dengan apa yang dikatakan ibu tadi, perlu bawa akte lahir atau ijazah SMP. Sedangkan musafir ini hanya tahu perlu bawa surat dari ketua RT-RW dan Kartu Keluarga. Terpaksa pulang. Pulang lagi dengan kucuran (sekarang) deras keringat dan dengan kesia-siaan yang dibawanya. Bertemu dengan kakak sang musafir yang bingung. Musafir bercerita singkat. Segera pergi meninggalkan kakaknya dengan wajah masih bingung. Naik ke kamar orangtua sang musafir. Mengobrak-abrik kamar dengan tergesa-gesa, tanpa merapikannya. Makan po*ky, sambil mengademkan diri di depan kipas angin. Siap berpetualang lagi.
Kedatangan ketiga kali ke kantor lurah
Wajah sudah tebal melihat ekspresi orang-orang bingung melihatnya bolak-balik melewati gang. Berjalan dengan lelah, tidak lupa juga keringat. Tidak ingat, entah matahari langsung membakar kulitnya atau awan menyelamatkan kulitnya yang sudah gelap. Memasuki kantor lurah. Langsung duduk tanpa izin. Bertanya dengan berani apa yang sedang ia tunggu. Tidak kaget ketika tahu ia harus menunggu. Saat itu pukul 09.58. Orang yang mengurus KTP sedang rapat dan akan kembali pukul 11 siang. Musafir memilih untuk menunggu. Memasang earphone di telinganya. Mengambil buku 'Sup Gibran' dari dalam tas. Membuat diri senyaman mungkin. 10 menit berlalu. 20 menit. 30 menit. 35 menit. Ia mulai sulit membuka mata. Pandangannya kabur karena dilanda kantuk. Pukul 10.35. Seseorang bicara padanya, rapat akan selesai pukul 3. Ia juga duga begitu. Pulang dengan sia-sia dan dengan membawa nomer telepon kantor lurah dan dengan earphone yang masih menempel di telinga. Jalannya sudah tidak lurus. Kakinya berat karena mengantuk.
Kedatangan keempat kali ke kantor lurah
Menelpon kantor lurah pukul 2 kurang. Dari telepon tahu bahwa pertugas sudah bisa diajak bekerja sama. Mengenakan pakaian yang sama. Pergi dengan langkah semantap pertama kali. Berjalan dengan earphone yang setia menemani. Kali ini tanpa bawa buku dan tas. Malas dengan pernak-pernik tidak penting. Ke sana, ya untuk KTP saja. Yakin kali ini adalah kedatangan yang terakhir kalinya. Matahari sudah lelah menyinari bumi. Energinya sudah tidak sekuat tadi. Ramai di ruang mengurus KTP. Bertemu ibu itu lagi. Tebakan sang musafir hawa benar soal kedatangan kali ini. Sang musafir hawa langsung ditanyai petugas. Difoto. Juga ditanyai petugas apa tidak puas dengan fotonya dan ingin mengulang. Sang musafir dengan mantap berkata tidak. Ingin cepat selesai. Disuruh meletakkan jempolnya ke alat sensor sidik jari, lalu menekan jempolnya. Musafir hawa mengakhiri dengan bertanya kapan ia dapat KTP-nya. Akhirnya yang ditunggu-tunggu. Selesai juga. Pulang dengan hati senang. (Yang ini tambahan saja. Pergi ke Indo***et. Menghadiahkan dirinya sendiri sebungkus keripik dan permen kenyal, setelah menempuh perjalanan yang panjang. Tanpa pikir gendut dan batuk.)
E-M-P-A-T kali. Sang musafir empat kali ke kantor lurah (bolak-balik) dalam satu hari. Panjang bukan harinya? Ya. Memang benar panjang dan melelahkan. Namun, sang musafir malah berpikir lain. Ia pikir perjalanan ini seperti kado ulang tahun ke-17 dari keluarahan tersebut. Menyadarkannya dan membuatnya melihat diri sudah dewasa. Sudah seharusnya bisa menyelesaikan masalah sendiri dan mandiri. Itu kado yang ia dapat dari perjalanannya hari ini. Usia 17 tahun dan KTP adalah tanda bahwa ia perlu bersiap-siap menghadapi dunia dan realita yang jauh berbeda dengan dunianya dan lingkungan sekolahnya.
Perjalanannya masih belum selesai karena kedatangan keempat kalinya bukanlah kedatangan yang terakhir. Senin depan, sang musafir hawa akan pergi sekali lagi ke kantor lurah dan akan benar-benar resmi memiliki kebangsaan dan tercatat dalam buku arsip kependudukan bahwa ia ada di bumi Indonesia, berlokasi di Jakarta, kota yang selalu melek, Ibukota Tanah Airnya. Dan pula bukti bahwa pemudi ini asli made in Indonesia.
Setelah tahu betapa panjang perjalanan yang telah dilalui, ia bangga.
Saya bangga.
Puisi Cinta (Seenaknya) Gue
Ini puisi cinta
Gue sih sebutnya puisi
bukan kacangan
bukan gombalan garing
bukan romantis-romantisan
Ini namanya cinta
usia beda jauh atau dekat ga jadi soal
ras beda kaya langit dan bumi ga ada urusan
namanya juga cinta
cinta yang menutup mata menjadi katarak setebal dosa
tompel sebesar apapun akan menjadi eksotis
cinta itu gula alami Tuhan yang cipta
puyer dengan senyumannya sama dengan jus alpukat dari surga
Ha-Ha
cinta itu olahraga jantung
cinta paksa jantung bekerja 3 kali lebih keras
bahkan SEPULUH kali mungkin
siapa tahu?
kalau lagi kasmaran,
cinta itu obat anti-mengantuk paling mujarab sedunia
dosis kafeinnya melebihi segalon teh dan kopi tubruk pekat
itu semua cinta remaja
masih ringkih
ditiup semut, runtuh berantakan jadinya
tapi yang sama dari semua kalangan penikmat cinta adalah
cinta itu guru
melatih untuk mengalah
menekan ego
saling percaya
dan yang paling utama adalah setia
Gue sih sebutnya puisi
bukan kacangan
bukan gombalan garing
bukan romantis-romantisan
Ini namanya cinta
usia beda jauh atau dekat ga jadi soal
ras beda kaya langit dan bumi ga ada urusan
namanya juga cinta
cinta yang menutup mata menjadi katarak setebal dosa
tompel sebesar apapun akan menjadi eksotis
cinta itu gula alami Tuhan yang cipta
puyer dengan senyumannya sama dengan jus alpukat dari surga
Ha-Ha
cinta itu olahraga jantung
cinta paksa jantung bekerja 3 kali lebih keras
bahkan SEPULUH kali mungkin
siapa tahu?
kalau lagi kasmaran,
cinta itu obat anti-mengantuk paling mujarab sedunia
dosis kafeinnya melebihi segalon teh dan kopi tubruk pekat
itu semua cinta remaja
masih ringkih
ditiup semut, runtuh berantakan jadinya
tapi yang sama dari semua kalangan penikmat cinta adalah
cinta itu guru
melatih untuk mengalah
menekan ego
saling percaya
dan yang paling utama adalah setia
27 February 2013
Dimensi Kehidupan
Gue kira hidup anak SMA cuman gitu-gitu aja. Ya di rumah, hang-out, nonton bareng, sekolah, main, dan kembali ke rumah, dan akan terus seperti itu. Gue kira hidup anak SMA bakal ya gini dan ga akan lebih dari ini. Menyenangkan, tapi flat.
Ternyata mereka punya dimensi yang lain, yang baru gue sadari sekarang. Mereka punya cara sendiri untuk mewarnai kehidupan. Ada yang penuh dengan bulu babi, tajam-tajam, penuh bahaya, tetapi katanya sih menantang. Ada juga yang penuh dengan kapas, yang empuk dan memanjakan. Banyak sekali jenisnya.
Dunia gue itu kecil banget. Kalau dihiperbolakan tuh, kaya gumbalan debu di galaksi bima sakti. Itulah luasnya dunia, bahkan lebih lagi.
Ternyata mereka punya dimensi yang lain, yang baru gue sadari sekarang. Mereka punya cara sendiri untuk mewarnai kehidupan. Ada yang penuh dengan bulu babi, tajam-tajam, penuh bahaya, tetapi katanya sih menantang. Ada juga yang penuh dengan kapas, yang empuk dan memanjakan. Banyak sekali jenisnya.
Dunia gue itu kecil banget. Kalau dihiperbolakan tuh, kaya gumbalan debu di galaksi bima sakti. Itulah luasnya dunia, bahkan lebih lagi.
07 November 2012
Arti Menangis
Menangis kadang kala jadi
solusi
Menangis itu menenangkan
Kegundahan akan tertuang
sampai habis hanya dengan beberapa butir air mata
Sungguh aku tidak bohong
Menangis membuat hati seperti baterai terisi kembali
Suasana hati membaik
Dan menangis membuatku siap hadapi musuh sebesar apapun
Kali ini aku tidak akan
mundur lagi
Aku akan terus maju
Sampai lawanku mundur ketakutan
Menangis beda dengan cengeng
Menangis adalah luapan emosi yang tertahan
Cengeng adalah sebutan untuk orang yang hanya bisa menggerutu dan diam saja
Aku pikir menangis itu ada keindahannya tersendiri
16 October 2012
Rancu
Antara pencitraan dan rasa simpati, sesungguhnya beda tipis.
Sulit untuk dibedakan
Aku rasakan itu
Antara benar-benar merasa bersalah
Ataukah karena tidak mau mencoreng patung indahku di mata orang
Benar-benar licik
Orang anggap aku apa sekarang
Lagi-lagi semuanya berpusat pada citra diri
Ingin diagungkan
Manusia memang tetap manusia yang ingin dituhankan
Aku sering keliru
Jadi rancu antara kedua hal ini
Aku jadi terdiam sendiri
Membatu karena rancu
Sulit untuk dibedakan
Aku rasakan itu
Antara benar-benar merasa bersalah
Ataukah karena tidak mau mencoreng patung indahku di mata orang
Benar-benar licik
Orang anggap aku apa sekarang
Lagi-lagi semuanya berpusat pada citra diri
Ingin diagungkan
Manusia memang tetap manusia yang ingin dituhankan
Aku sering keliru
Jadi rancu antara kedua hal ini
Aku jadi terdiam sendiri
Membatu karena rancu
29 August 2012
Menyendiri Dengan Tulisan
Untuk mengeluarkan sepatah kata, aku tidak mau
Untuk mengetiknya menjadi sebuah rangkaian kata-kata dari mesin elektronik di jejaring sosial apalagi
Aku introver
Aku juga ekstrover
Kadang aku hanya ingin bungkam seratus ribu kata
Kali ini saja, andai bisa ada yang mengerti tanpa aku membuka mulut samasekali
Pikiranku terus berterbangan, tetapi tidak dapat kukeluarkan dari rongga mulut
Serasa ada bulatan besar bakso yang menahan di dalam kerongkongan untuk menahan sebuah kata keluar
Menorehkan tinta hitam pekat ke lembaran kertas kosong
Mengotorinya dengan segala kemuakan dunia
Itu paling nyaman
Yang menyenangkan reaksi tinta hitam yang berubah menjadi tulisan otentikku itu
Ia diam
Tiada suara
Tidak keluar sepatah katapun
Seakan ia mendengarkan dengan seksama bak mendengar ulangan mendikte
Saat ini tulisan yang dapat menenangkan hatiku
Kalian coba saja sendiri kalau tidak percaya
19 August 2012
Manusia Bayang-Bayang
Buat apa mengerti manusia bayang-bayang
toh dia cuman bayang-bayang dari yang lain
hanya membajak manusia lain
dengan mengerti yang lain, dengan mudah mengerti manusia bayang-bayang
tidak ada keunikan
tidak begitu menurutku
aku sebagai sepertiga manusia bayang-bayang punya pembelaan
mereka juga punya originalitas
kalian saja yang tidak bisa melihat
mereka menguburnya jauh di dalam kepribadian mereka
sengaja ataupun tidak
menurutku begitu
mereka hanya kurang tampil
mereka kurang berani
tapi bukan pecundang
jangan pernah menyempitkan makna
itu bisa jadi sesat
jujur kalian wahai manusia 100 persen asli
kalian munafik jika bilang kalian 100 persen asli
siapa percaya
kemunafikan untuk sebuah pencitraan yang kelabu
tidak jelas kapan itu akan memudar
jadi untuk apa
toh abu-abu adalah bayang-bayang dari hitam dan putih
tidak salah menjadi separoh manusia bayang-bayang
asal jangan kamu menjadi manusia bayang-bayang sepenuhnya
07 August 2012
dulu bosan aku sekarang lain
sudah begitu lama rasanya tidak aku menulis di netbook ini. sudah lama juga tidak bercengkrama dengan tombol-tombol dalam netbook ini.
dan kembali lagi. aku sedang tidak dalam kondisi mood yang bagus, seperti tulisan yang sebelum. bukan yang kau harapkan untuk enak dibaca. jadi jangan kecewa, karena dari awal sudah aku katakan bahwa tulisan ini akan banyak mengandung unsur negatif. jangan salahkan aku, kamu tertular virus menyebalkan ini. aku tidak bohong, bad mood bisa membawa pengaruh buruk pada orang lain. aku minta maaf jika ini membawamu dalam kondisi tidak menyenangkan hatimu dan tidak menenangkan jiwamu.
bahkan untuk membesarkan tulisanku dengan memencet tombol caps lock, aku terlalu malas.
judulku abstrak sama seperti tulisan ini. aku memang tidak mau begitu banyak membuka rahasia pribadi. untuk apa pula kamu tahu maksudku sesungguhnya, kamu juga punya masalah sendiri yang aku tidak mau tahu. aku suka misterius. aku suka kamu menebak dan menerka sendiri dengan persepktifmu yang aneh. terserah kamu saja. aku membantumu untuk berimajinasi teman.
toh ini blog untukku bebas mengekspresikan diri dalam bentuk apapun melalui tulisan. semua hak kebebasan aku yang berdaulat. untuk di sini maksudku.
semua orang ada saatnya merasa bosan untuk kematian alias bored to death alias bahasa kerennya bosan setengah mati. ini saatnya untukku mengalaminya. benar hari ini aku mengalaminya. aku tidak mengerti kenapa. wanita memang aneh. kadang berubah sifatnya seratus delapan puluh derajat. sampai tidak dapat diindentifikasi apa penyakit ajaibnya itu. memang wanita aneh.
kalian jangan berburuk sangka padaku. aku bukan anak yang selalu menggerutu dan menyebalkan seperti nyamuk. aku bukan juga seorang yang membawa hawa negatif menempel padamu jika selalu berdekatan padaku. jangan salah kira. hanya saja saat ini aku sedang tidak berkeinginan untuk menularkan hawa postif padamu.
tapi malam ini bukanlah malam yang tepat untuk menyebarkan hawa negatif di rumah. sebentar lagi aku harus menghantar kepergian saudaraku. aku paling tidak suka itu. aku tidak mau ada memori memuakkan yang direkam.
tadi boleh bosan sampai mau mati. tapi sekarang aku tersenyum sampai mau terbang.
dan kembali lagi. aku sedang tidak dalam kondisi mood yang bagus, seperti tulisan yang sebelum. bukan yang kau harapkan untuk enak dibaca. jadi jangan kecewa, karena dari awal sudah aku katakan bahwa tulisan ini akan banyak mengandung unsur negatif. jangan salahkan aku, kamu tertular virus menyebalkan ini. aku tidak bohong, bad mood bisa membawa pengaruh buruk pada orang lain. aku minta maaf jika ini membawamu dalam kondisi tidak menyenangkan hatimu dan tidak menenangkan jiwamu.
bahkan untuk membesarkan tulisanku dengan memencet tombol caps lock, aku terlalu malas.
judulku abstrak sama seperti tulisan ini. aku memang tidak mau begitu banyak membuka rahasia pribadi. untuk apa pula kamu tahu maksudku sesungguhnya, kamu juga punya masalah sendiri yang aku tidak mau tahu. aku suka misterius. aku suka kamu menebak dan menerka sendiri dengan persepktifmu yang aneh. terserah kamu saja. aku membantumu untuk berimajinasi teman.
toh ini blog untukku bebas mengekspresikan diri dalam bentuk apapun melalui tulisan. semua hak kebebasan aku yang berdaulat. untuk di sini maksudku.
semua orang ada saatnya merasa bosan untuk kematian alias bored to death alias bahasa kerennya bosan setengah mati. ini saatnya untukku mengalaminya. benar hari ini aku mengalaminya. aku tidak mengerti kenapa. wanita memang aneh. kadang berubah sifatnya seratus delapan puluh derajat. sampai tidak dapat diindentifikasi apa penyakit ajaibnya itu. memang wanita aneh.
kalian jangan berburuk sangka padaku. aku bukan anak yang selalu menggerutu dan menyebalkan seperti nyamuk. aku bukan juga seorang yang membawa hawa negatif menempel padamu jika selalu berdekatan padaku. jangan salah kira. hanya saja saat ini aku sedang tidak berkeinginan untuk menularkan hawa postif padamu.
tapi malam ini bukanlah malam yang tepat untuk menyebarkan hawa negatif di rumah. sebentar lagi aku harus menghantar kepergian saudaraku. aku paling tidak suka itu. aku tidak mau ada memori memuakkan yang direkam.
tadi boleh bosan sampai mau mati. tapi sekarang aku tersenyum sampai mau terbang.
03 August 2012
Jauh Dari Mana-mana
Tuhan rasanya hari ini menjauhiku
Dia melupakanku
Aku kacau sekarang
Sungguh amat kacau
Aku takut semua kepahitan itu terulang lagi di kehidupanku yang sudah baik ini
Jangan
Tolong jangan
Aku benci mendengar bisikan mereka soal dirimu
Tapi aku juga tak bisa pungkiri kesal dengan sikapmu yang keras seperti baja super kuat
Aku merasa jauh dari segalanya
Tidak ada yang bisa mencarikanku pintu keluar
Tidak terkecualipun
Bahkan Ia belum sempat menjawaku
Aku mendengar suara gerbang itu berbunyi terbuka
Hatiku semakin gundah saja
Perjuanganmu baru dimulai
Dan aku tidak tahu tindakanmu untuk kesekian kalinya
Sumpah
Berikan aku kesempatan untuk berbicara
Berikan dirimu kesempatan untuk mendengar orang lain
Kamu tidak hidup sendiri
Kamu bersama aku dan mereka
Jangan lupakan kami dalam setiap pikiran yang terbesit di otakmu
Ingat kamu punya aku
Mereka juga punyamu
Tapi hari ini aku merasa tidak memilikimu
kamu jauh sekarang
Dia melupakanku
Aku kacau sekarang
Sungguh amat kacau
Aku takut semua kepahitan itu terulang lagi di kehidupanku yang sudah baik ini
Jangan
Tolong jangan
Aku benci mendengar bisikan mereka soal dirimu
Tapi aku juga tak bisa pungkiri kesal dengan sikapmu yang keras seperti baja super kuat
Aku merasa jauh dari segalanya
Tidak ada yang bisa mencarikanku pintu keluar
Tidak terkecualipun
Bahkan Ia belum sempat menjawaku
Aku mendengar suara gerbang itu berbunyi terbuka
Hatiku semakin gundah saja
Perjuanganmu baru dimulai
Dan aku tidak tahu tindakanmu untuk kesekian kalinya
Sumpah
Berikan aku kesempatan untuk berbicara
Berikan dirimu kesempatan untuk mendengar orang lain
Kamu tidak hidup sendiri
Kamu bersama aku dan mereka
Jangan lupakan kami dalam setiap pikiran yang terbesit di otakmu
Ingat kamu punya aku
Mereka juga punyamu
Tapi hari ini aku merasa tidak memilikimu
kamu jauh sekarang
30 May 2012
Kadang
kadang ada saatnya kamu ingin selalu didengar dan memerintah
mungkin
kadang ada saatnya dimana semua terasa berantakan dan kamu sudah tidak tahan dengan pemandangan itu,
ingin terjun ke dunia entah berantah di bawah sana
kadang ada saatnya kamu membutuhkan pelukan dan dorongan dari seseorang di rumahmu, di sekolahmu, dan di lingkungan masyarakat
kadang ada saatnya kamu hanya ingin berdiam dan mengetik mengetik dan mengetik, ingin memiliki waktu hanya dengan dirimu sendiri
kadang ada saatnya kamu merasa semua masalah berada di titik puncak klimaks bercampur aduk lalu lalang di hidupmu, kamu ingin kabur saja, ingin menangis sekeras mungkin, ingin berteriak sampai tenggorokan yang menghentikan teriakanmu
kadang ada saatnya kamu ingin berlari, berlari menjauhi dunia ini karena kamu merasa tidak berada di dunia ini, kamu tidak menapaki tanah, kamu melayang-layang, kamu merasa terasing dari dunia ini
kadang kamu ingin memeluk dan mengecup pipi semua orang yang ada di sekitarmu karena senang hatimu tak kepalang
kadang ada saatnya untukmu berdiam sebentar saja tanpa gangguan, begitu penat dan lelah, lemas raga, lemas jiwa
kadang kamu merasa hidup di alam mimpimu dan saat kamu menyadari hal itu, hanya ingin menggerutu dan menggerutu
kadang ada saatnya kamu merasa jantungmu ingin terlepas dari badanmu karena berdekatan dengan pujaan hati, perebut hatimu, perebut waktu melamunmu
kadang ada saatnya kamu tidak mengerti apa kemauan mereka, menganggap kamu manusia paling bodoh dan aneh karena kamu tidak dapat mengerti mereka sedikitpun
kadang kala kamu merasa kecil, lemah dan tak berguna di dunia ini, peranmu tidak ada maupun tidak dibutuhkan, bahkan terlintas pikiran 'aku ini apa? buat apa aku?'
kadang ada saat kamu tidak dapat mempercayai siapapun, bahkan mereka orang terdekatmu, seperti orang asing yang tinggal di rumahmu
semua ada waktunya
kadang
tenang, tak perlu tegang begitu atau merasa tak wajar
aku juga pernah mengalami hal serupa dengamu
mungkin
kadang ada saatnya dimana semua terasa berantakan dan kamu sudah tidak tahan dengan pemandangan itu,
ingin terjun ke dunia entah berantah di bawah sana
kadang ada saatnya kamu membutuhkan pelukan dan dorongan dari seseorang di rumahmu, di sekolahmu, dan di lingkungan masyarakat
kadang ada saatnya kamu hanya ingin berdiam dan mengetik mengetik dan mengetik, ingin memiliki waktu hanya dengan dirimu sendiri
kadang ada saatnya kamu merasa semua masalah berada di titik puncak klimaks bercampur aduk lalu lalang di hidupmu, kamu ingin kabur saja, ingin menangis sekeras mungkin, ingin berteriak sampai tenggorokan yang menghentikan teriakanmu
kadang ada saatnya kamu ingin berlari, berlari menjauhi dunia ini karena kamu merasa tidak berada di dunia ini, kamu tidak menapaki tanah, kamu melayang-layang, kamu merasa terasing dari dunia ini
kadang kamu ingin memeluk dan mengecup pipi semua orang yang ada di sekitarmu karena senang hatimu tak kepalang
kadang ada saatnya untukmu berdiam sebentar saja tanpa gangguan, begitu penat dan lelah, lemas raga, lemas jiwa
kadang kamu merasa hidup di alam mimpimu dan saat kamu menyadari hal itu, hanya ingin menggerutu dan menggerutu
kadang ada saatnya kamu merasa jantungmu ingin terlepas dari badanmu karena berdekatan dengan pujaan hati, perebut hatimu, perebut waktu melamunmu
kadang ada saatnya kamu tidak mengerti apa kemauan mereka, menganggap kamu manusia paling bodoh dan aneh karena kamu tidak dapat mengerti mereka sedikitpun
kadang kala kamu merasa kecil, lemah dan tak berguna di dunia ini, peranmu tidak ada maupun tidak dibutuhkan, bahkan terlintas pikiran 'aku ini apa? buat apa aku?'
kadang ada saat kamu tidak dapat mempercayai siapapun, bahkan mereka orang terdekatmu, seperti orang asing yang tinggal di rumahmu
semua ada waktunya
kadang
tenang, tak perlu tegang begitu atau merasa tak wajar
aku juga pernah mengalami hal serupa dengamu
27 April 2012
Maju itu Sulit
setiap pengen maju pasti ada aja rasa takut
gatau apa alasannya
cuman takut buat ngalamin yang aneh-aneh dan ga enak
pernah ga ngerasa kaya gitu?
gue emang ga sering mengalami hal itu
karena memang proses untuk maju ga gampang
dan ga selalu dialami setiap orang dan setiap saat
kadang malah pengen mundur
dan sengaja memberikan beribu alasan
atau bahkan membuat segala halangan yang mungkin terjadi menjadi terjadi
hehe
Tapi jika dipikir kembali
tantangan itu memang penting
menguji kita
sampai seberapa tahan kita diproses Tuhan
seberapa kita percaya bahwa Tuhan selalu ada di samping kita untuk menopang kita saat nanti kita terjatuh
dan ga selalu dialami setiap orang dan setiap saat
kadang malah pengen mundur
dan sengaja memberikan beribu alasan
atau bahkan membuat segala halangan yang mungkin terjadi menjadi terjadi
hehe
Tapi jika dipikir kembali
tantangan itu memang penting
menguji kita
sampai seberapa tahan kita diproses Tuhan
seberapa kita percaya bahwa Tuhan selalu ada di samping kita untuk menopang kita saat nanti kita terjatuh
25 January 2012
Tahun ke-16
Semakin tua umurku
semakin kukenali diriku aneh
manusia paling aneh
karena hanya aku yang tahu dalam pergumulan hati ini
semakin aku dewasa
semakin melihat rusakku
Kulalui limabelas tahun ini
aku seperti sedang melepaskan kulitku yang asing
setiap kulit yang terlepas menandakan aku telah memecahkan misteri topeng-topeng dalam diri
kubayangkan diriku sebagai manusia yang memiliki lapisan-lapisan kulit menyerupai alien abstrak
Sudah enambelas tahun ternyata
berarti sudah enambelas tahun lamanya kugali diriku
sedalam-dalamnya dengan kurasan tenaga tak terhitung
Namun aku belum selesai
aku perlu terus mengupas kulit-kulit itu dengan tuntas
sampai aku perlu berhenti
walau tidak mungkin
Yang ku cari.. kau tahu apa?
kenapa aku terus menggali.. kau tau mengapa?
aku butuh jawaban
yang menuntunku pada puncak solusi
untuk memperbaiki yang telah terpecahkan
Aku berharap di tahun-tahun ke depan jawaban itu datang padaku
dan aku siap dituntun olehnya
semakin kukenali diriku aneh
manusia paling aneh
karena hanya aku yang tahu dalam pergumulan hati ini
semakin aku dewasa
semakin melihat rusakku
Kulalui limabelas tahun ini
aku seperti sedang melepaskan kulitku yang asing
setiap kulit yang terlepas menandakan aku telah memecahkan misteri topeng-topeng dalam diri
kubayangkan diriku sebagai manusia yang memiliki lapisan-lapisan kulit menyerupai alien abstrak
Sudah enambelas tahun ternyata
berarti sudah enambelas tahun lamanya kugali diriku
sedalam-dalamnya dengan kurasan tenaga tak terhitung
Namun aku belum selesai
aku perlu terus mengupas kulit-kulit itu dengan tuntas
sampai aku perlu berhenti
walau tidak mungkin
Yang ku cari.. kau tahu apa?
kenapa aku terus menggali.. kau tau mengapa?
aku butuh jawaban
yang menuntunku pada puncak solusi
untuk memperbaiki yang telah terpecahkan
Aku berharap di tahun-tahun ke depan jawaban itu datang padaku
dan aku siap dituntun olehnya
Subscribe to:
Posts (Atom)
