Showing posts with label Iseng aja. Show all posts
Showing posts with label Iseng aja. Show all posts

07 December 2013

Pergi ke Monas dengan Papa

Gue tau yang muncul dibenak kalian pertama kali baca judul post gue. Ga banget kaya karangan anak sd soal liburan sekolah. Hehe. Tapi sorry abis karna otak gue lagi ga bisa mikir berat- berat buat nyari yang padat dan berbobot.

Gue langsung aja ya ke ceritanya. Sebenernya jadwal gue hari ini itu bukan pergi ke Monas, harusnya gue bakal menganggur di rumah, bermalas-malas di kasur sambil nonton film, menimbun lemak di rumah. Tapi, bokap malah (sengaja) ngajak pergi karna di Monas lagi ada pawai keraton apa gitu. Gue diem aja tanpa memberikan perlawanan atas ajakan itu.

Akhirnya capcus nyampe sana, kedatangan gue disambut dengan kubu-kupu biru sangat menawan terkapar di jalanan. Baru pertama kali gue nemuin kupu-kupu beneran dan megang secara langsung. Sebenernya gue takut debu-debu dari sayapnya bakal mematikan gue, tapi alhasil gue bawa pulang juga itu kupu-kupu tak bernyawa. (ini beneran paragraf curhat 100%)

Setelah mendatangi poster berisi susunan acara, gue melihat bahwa gue sama bokap gue salah hari. Harusnya tuh besok baru ada carnavalnya. Mau apa dikata, gue sudah dateng ke sana, sayang juga kalo langsung pulang. Gue berkeliling sebentar di halaman Monas.

Gue baru menyadari kalo udah cukup lama gue ga ke monas untuk sekadar mengucapkan selamat pagi pada langit dan matahari (asik). Ada banyak tanah yang digembur di sana-sini, gue ga tau istilahnya pokoknya tanahnya dipermak gitu deh. Gue melihat banyak perubahan yang udah Pak Jokowi-Ahok lakukan buat bikin Jakarta lebih enak dijadiin tempat tinggal. Contohnya acara-acara kaya gini, yang ga cuman bisa dinikmatin kalangan atas atau bawah, tapi semuanya bisa ngumpul jadi satu di sini. 

Kaya ada hawa hero berlabuh dan menetap di Jakarta.

Terus gue mikir. Nelson Mandela baru saja dipanggil Tuhan. Dunia kehilangan satu pahlawan. Tapi, bukan berarti ga ada lagi pahlawan yang lahir dan mempertunjukkan aksinya. Sukarno, pahlawan kebebasan Indonesia, memang sudah meninggal puluhan tahun lalu. Tapi, itu bukan akhir dari segalanya. Sekarang kita punya kok sosok pahlawan yang nyata. Pahlawan itu lahir dan berada di tengah-tengah kita, orang Jakarta.

26 March 2013

Menulis Itu


Menulis itu
menenangkan pikiran
memanah hati
memompa otak
melemaskan otot tegang
melatih imajinasi
menghabiskan waktu
melupakan dunia dan realita
menyamarkan maya dan nyata
menguak yang tersembunyi
menyembuhkan
menginspirasi
menyemangati
menguatkan


Untuk sebagian orang...

04 March 2013

Coba deh jalan di tengah hujan, malam-malam, di gang rumah, sendirian, sambil memegang payung, dan tak lupa menancapkan earphones di telinga dengan suara cukup keras, lagunya Phil Philips yang judulnya Home, dan terdengar samar-samar bunyi hujan ang sebenarnya cukup deras dari dalam kupingnya sedang mendengar lagu, rasakan air bercipratan ke kaki, udara sejuk merasuk tubuh. Aduh... Nyaman sekali :) Gada mati deh

03 March 2013

Ada Apa Dengan Microsoft Word Kosong?


Guru ekskul gue yang juga adalah teman seusia gue yang juga adalah kakak senior gue menyadarkan bahwa sebenernya Microsoft Word yang kosong itu menakutkan dan menyeramkan. Suwer deh. Gue makin dipaksa nulis, makin mampet. Microsoft Word seperti memaksa gue lewat pikiran. Gila. Kenapa baru sadar sekarang ya? Dia sekarang udah berani dan mampu melawan Ms Word kosong tersebut. Gue juga harus bisa!

Perihal Lari Sore dan Senayan

Ya, Minggu sore lalu, tepat seminggu, aku pergi jogging. Inginnya sih pergi ke tempat lain selain di rumah untuk sekadar membaca buku dan mendengar musik dengan autisnya, tetapi memakai kata jogging sebagai topeng, biar keliatan lebih keren. Memang benar aku lari sore, 4 kali keliling Gelora Bung Karno, setelah itu baru aku duduk menikmati  kesendirian.

Untuk pengetahuan nih, haha, aku yang menjadi sopir kali ini, bukan papaku. Benar-benar dari awal perjalanan hingga sampai dengan selamat di Senayan. Dan mesin tidak mati selama aku mengendarai. WohoO!

Banyak hal yang kutemui dan kupikirkan saat sedang lari sore. Hanya lari sore. Bayangkan ya betapa Tuhan menciptaan manusia begitu unik, aku dan kamu. Hanya dengan sebuah lari sore saja, banyak ide mencuat di benak seseorang, termasuk diriku.

Setiap kali aku lari, aku selalu mengobrol. Entah kau sebut ini normal, atau aneh. Aku bicara pada diriku. Paling sering yang isinya demikian dalam bentuk kata yang beragam:
Jas, lu bisa satu puteran nih. Inget perut rata. Woii perut lu bakal rata. Ginian tuh sepele. Masa ga kuat. Ini bikin lu sehat. Lu barusan makan kan? Nah sekarang waktunya ngebakar lemak-lemak jahat itu.
Atau
Buset dah ini ibu-ibu jiwa muda banget sih ampe silau gue ngeliat dandanan nya.
Atau
Nih orang sih gaya larinya lucu parah loh, ga boong. Kurang laki amat. 
 Atau
Pokoknya gue ga boleh kalah sama bapak itu. Gue bakal lari terus sampai dia berenti lari. 
Disisi diriku satu lagi berkata: Sumpah nih bapak kuat banget. Jantung gue bisa copot kalau ikutan lari sampai ini bapak berenti lari. Ga kuat. Udah deh. Gue kalah. (dan biasanya gue beneran langsung jalan lunglai dengan tampang abis disiksa majikan)
Saat sedang  jogging, paling tidak ada satu orang, perempuan biasanya, yang memakai pakaian yang benar-benar tidak cocok untuk dipakai untuk berolahraga, sering kita sebut salah kostum/saltum. Antara terlalu norak, terlalu ketat sehingga memperlihatkan seluruh lekukan dan lipatan tubuh mereka, terlalu berlebihan, ataupun terlalu ingin berpenampilan seperti anaknya yang masih belia. Seringkali, mereka ini menjadi pusat perhatian karena memang eye-catching, tidak aku sangkali hal ini.

Ada yang karena pakaian yang dikenakan membuat dirinya eye-catching, ada pula karena gaya larinya. Gaya lari ada berbagai macam, mulai dari yang lucu sampai aneh. Mulai dari gaya lari perempuan seksi sampai gaya lari orang macho. Semuanya ada deh di sini. Ada orang berlari, pasti ada tukang minuman. Ada tukang minuman, ada juga tukang bakmi, tukang siomay, dan ibu penjual tempe mendoan yang siap melayani orang yang lelah dan berkeringat. Semuanya seperti saling terkait.

Bagiku, itu bukanlah masalah atau gangguan, tetapi menjadi keunikan saat lari sore. Aku senang  melihat mereka, laki-laki maupun perempuan, yang rajin berolahraga. Walaupun memakai pakaian dan sepatu seadanya, ada juga yang pakai sendal bahkan, mereka sadar akan pentingnya menjaga tubuh untuk tetap sehat.

Mungkin bukan saja untuk sehat, tapi juga keuntungan buat yang lagi kasmaran. Tidak sedikit loh orang yang masih muda lari bersama. Lucu deh lihatnya. Tampang mereka yang begitu menikmati sesi berolahraga, rasa dunia milik berdua dan ingin menghentikan waktu. Tawa canda riang yang terlihat dari air muka. Bukan cuma pasangan muda yang kulihat, pasangan tua juga ada. Aku lihat mereka begitu semangat dan aduhai... masih mesra. Aku ingin bisa seperti mereka saat tua nanti. Bisa jogging atau jalan sore bersama orang yang dicintai sambil mengingat masa muda up and down, juga saat cinta mereka mulai bersemi. Indahnya hidup ini. Hehe.

Akan tetapi, semua suasana nyaman dan tentram yang telah dirajut selagi berlari santai dihancurkan oleh asap kendaraan. Ah... Aku benci mereka. Mereka egois. Tidak tahukah mereka, orang di sini, untuk mencari udara bersih dan sehat? Mereka malah membuat orang-orang tidak betah. Mereka hanya ingin enaknya saja. Inginnya sejuk sedirian, tetapi mengotori udara di jalanan Gelora Bung Karno. Inginnya santai di dalam mobil dengan mendengar lagu, tetapi membuat setiap orang yang melewati kendaraannya harus menahan bau asap berbahaya itu. Bisakah kalian matikan mesin, keluar dari kendaraan kalian, dan nikmati udara segar selagi masih ada dan bisa dihirup?

Kekesalan pada mobil seketika hilang saat melihat keceriaan anak-anak kecil melihat seorang paruh baya penjual gelembung melakukan atraksi gelembung. Mereka seperti berada di dunia khayangan dan dunia mimpi. Tawa mereka meledak dan senyuman tak henti ketika gelembung menghiasi sekeliling mereka, membuat gigi-gigi yang belum banyak tumbuh dipamerkan secara otomatis. Aku juga liat anak perempuan usia dua tahun-an yang berkaus kutang dan celana dalam pink memakai sendal bapaknya (mungkin) juga asyik dengan gelembung yang bergerak-gerak terbawa angin. Mau orang tua mereka banyak uang atau banyak hutang, semua anak, tidak terkecuali,  memang suka gelembung.

Di satu sisi aku melihat banyak keluarga yang ceria, membawa sanak saudara pergi bersantai di Senayan, menikmati angin sore yang menyejukan. Makan bersama-sama yang harganya terjangkau bagi orang awam, walau makanan sederhana. Di sisi yang lain, aku melihat nenek tua, sendirian tanpa ada pembeli, berjualan ala kadarnya dipojokan pintu masuk stadium. Kadang aku melihat ketidakadilan di dunia ini. Mungkin karena aku melihat dan mengerti separuh saja, atau mungkin seperempat dunia ini saja ya?

13 October 2012

Hidup di Jakarta

Hidup di Jakarta resiko jadi gila. Jadi stress stadium 4.

Jakarta oh.. Jakarta
"Apa sih yang bener di sini?" pikir seorang anak SMA swasta di rumahnya bilangan Jakarta Pusat, tepatnya di kamar orang tuanya dan sedang sendirian.

MRT? udah mau dibangun, tapi mentok gara-gara kurang dana tuh katanya.
Macet adalah isu biasa. Kalau jalan di Jakarta lancar itu pasti menandakan bahwa hari itu adalah hari lebaran, atau lagi ada demo besar-besaran di istana negara.

Kotanya ga bener, yang tinggal juga sama.

Supir kopaja kupingnya udah kesumpel sama polusi. Mereka jadi budek dan kebal sama bunyi klakson yang nan nyaring bunyinya. Bus itu dengan santai menutupi jalur utama di jalan sempit macem jalan di pasar baru. Coba ke sana jam 6 dan rasakan nikmatnya paduan suara yang sahut menyahut tiada henti. Ingin naik bus atau naik bajaj atau nyari angkot? Yang perlu dilakukan ada;ah berdiri di pinggir jalan terus ngacung-ngacung tangan, pasti ada kendaraan umum yang menghampiri. Bahkan sekarang ga perlu ngacungin tangan dan tinggal berdiri doang, mereka akan berinisiatif dengan sendirinya menawarkan jasa antar dalam sekejap. Keren kan Kota Jakarta?

Halte bukan tempat buat orang menunggu bus, malah dibuat kamar bagi tuna wisma atau jadi tempat strategis buat pedagang bakmi. Mampir deh di dekat rumahku, ada bakmi enak (murah juga) dan lokasinya persis di halte itu. Halte digunakan sebagai tempat duduk bagi penikmat bakmi itu.

Ceritaku belum selesai. Aku sebagai konsumen mobil pendek ingin complain. Mentang-mentang mobil sekarang tinggi-tinggi jangan dong mengganti lampunya jadi lampu yang aneh-aneh, yang putih lah atau terangnya hampir menyamai matahari. Lampu mobil sekarang tuh kaya lampu sorot yang ada di konser-konser penyanyi taraf internasional. Kalau sedang berada di depan atau di belakang mobil lampu sorot itu, hiperbolanya kaya adegan Saulus yang dibutakan. Silaunya minta ampun. Jadi tolong hargai sedikit kami, para pengguna mobil sedan.

Lalu soal kendaraan umum yang terkenal dengan bus berwarna merah oranye atau abu-abu itu, tidak perlu kusebutkan namanya. Aku kaget ternyata bus itu bisa menurunkan di jalan, dan bukan di halte. Kata orang itu sih gara-gara dia sudah terlambat dan tempat kerjanya persis di sebelah kanan bus. Aku hanya geleng-geleng dalam hati. Aku lihat muka co-driver (aduh tidak tahu apa sebutan untuk orang yang menjaga pintu di bus) yang pasrah. Aku tidak menyalahkan sepenuhnya pada tindakan dari co-driver dan driver nya yang memutuskan untuk membuka pintu itu. Orang itu juga salah. Dia memaksakan kemauannya di atas kebijakan yang rapuh. Hancurlah kebijakan itu jika ditindas.

Mau nyicipin neraka skala kecil ga? Jam 6 sore ke halte bus merah oranye di harmoni. Padetnya sudah tidak bisa disampaikan lagi dengan kata-kata. Kesesakan tidak sampai di situ, di dalam bus juga padat seperti lagi di dalam kaleng sarden. Bau di dalam bus sedap banget. Bayangkan semua keringat, bau badan dan bau parfum tak jelas bercampur jadi satu. Ah.. Tidak mau aku membayangkannya.

"Mau buat SIM ya?" bukan itu pertanyaannya. Pertanyaannya itu adalah "punya duit berapa buat bikin SIM?". Jangan tersinggung loh, tapi memang banyak dari pembuatan SIM begitu kan? Ada paketnya lagi kayak di restoran cepat saji yang menawarkan buy one get two atau menu hemat kali ya namanya.

Gini ini manis pait tinggal di Jakarta. Mau tidak mau ya harus mau terima hehe :)
Kapan-kapan kalau aku punya cerita menarik lainnya, tidak akan kusimpan sendiri. Pasti kubagikan buat kalian juga kok.

20 September 2012

Serasa Mau Nyoblos Beneran

Teman-temanku lucu. Mereka bak tim sukses bapak mantan walikota Solo yang sukses itu, Pak Jokowi. Ada saja saat untuk membicarakan pidato calon gubernur. Bapak berperawakan kurus, tetapi ramah dan kalem itu. Bahkan hampir setiap guru yang masuk ke dalam kelasku, 11 SOS, 'dipaksa' dengan lembut untuk memilih calon gubernur favorit mereka itu.

Sungguh lucu. Padahal hanya dua temanku yang sudah bisa mencoblos. Sebenarnya ada tiga, tapi yang satu ini tidak legal. Jadi aku tidak tahu juga dia bisa ikut berpartisipasi atau tidak. Mereka, tepatnya salah seorang dari mereka (kupikir), telah mempengaruhi aku dan teman sekelas. Kami sudah disihir.

Serasa aku sudah saatnya untuk mencoblos saja. Terus dijejalkan semua kelemahan dari lawan idola teman-temanku.

Para pahlawan '45 terus menyuarakan kemerdekaan. Kalau kelasku, mereka juga dengan semangat '45 menyuarakan motto 'Jakarta Baru' milik Pak Jokowi - Basuki, lengkap dengan dialog dan kronologi adegan dalam final cagub di suatu siaran tv swasta. Mereka menghapal setiap dialog dengan fasih dan sangat baik, seperti sedang menunggu detik-detik ulangan harian di sekolah. Lebih  fasih daripada mereka menghapal rumus matematika yang menjadi bahan ulanganku.

Saat ini sepertinya 'semua' anak sibuk mengkampanyekan idola mereka. Mulai dari anak SMP sampai anak SMA. Bukan cuma kelasku saja loh. Tumben. Jarang terjadi hal seperti ini. Mungkin dulu juga aku tidak pernah memperhatikan karena masih bocah. Tapi kurasa kali ini beda. Tidak seperti pilkada lainnya.

Ada semangat, juga pengharapan akan masa depan kota Jakarta ini.

Tinggal beberapa saat lagi, mereka akan tersenyum lebar atau kecewa setengah mati. Aku juga berharap sih mereka akan tersenyum lebar sambil memamerkan gigi-gigi mereka sampai kering. Sangat malah.


09 July 2012

Say NO to bullying the dog

Kemaren gue pergi ke gunung Salak. Di sana gue ngeliat ada anjing warnanya hitam. Gue gatau jenisnya apa. Yang gue perhatikan bukan bagus atau lucu anjing ini. Gue ngeliat sebuah perbedaan yang signifikan antara anjing ini dengan anjing gue di rumah.

Di mukanya dia keliatan ada ketakutan yang sangat menakutkan. Dia bukan anjing yang pede kaya anjing gue. Anjing gue tuh emang loser banget, tapi punya kepercayaan diri yang tinggi. Anjing peliharaan gue ini berani kandang. Dia gong-gong cuman di dalem pagar rumah, pas keluar sama kucing aja didiemin. Tapi tetep aja anjing gue itu banyak tingkah alias pencilakan (gue ga bisa menjelaskan arti kata satu ini, maaf ya).

Dan gue melihat anjing hitam tuh takutnya beda sama takut anjing gue kalo lagi dimarain gara-gara kencing sembarangan. Lebih suram. Lebih muram. Gue bertanya-tanya kenapa bisa begitu. Bokap gue sih bilang itu karena banyak yang nge-bully dia. Gue sedih deh dengernya. Kenapa sih orang suka banget nyiksa binatang? Apa enak ngeliat binatang kaing kaing (suara anjing kesakitan)?

Pengen rasanya gue bawa pulang biar dia bisa dapet kebebasan. Dia memang ga dikerangkeng. Tapi dia ga bebas karena banyak yang gangguin dia. Gue ngeliat orang jalan ngelewatin dia (cuman lewat doang), terus buntutnya turun kaya udah mau putus. Kepalanya tertunduk ke bawah gitu kaya lagi ngelakuin kesalahan. Anjing ini langsung jaga jarak sama orang yang lewat itu. Mungkin karena takut. Gue ga sanggup bayangin udah berapa banyak orang yang ngelemparin batu, ngejar-ngejar ga jelas, nginjek buntutnya, nendang. pas tidur Ga bisa deh gue bayangin.

Apa daya, memang gue juga ga mungkin bawa di pulang. Satu hal yang gue tekankan jangan sakiti binatang. Mereka kan juga hidup. Mereka yang nemenin kita hidup di dunia. Jadi kita harus memelihara mereka dengan  sepantasnya. Karena, Tuhan sudah sediakan mereka ditengah-tengah kita bukan buat disiksa, tapi buat menemani kita di dunia ini.

19 May 2012

Pertemuanku Dengannya

Aku sedang ingin bernostalgia. Aku sedang membayangkan bagaimana aku bisa bertemu dengannya. Dunia yang selama ini telah menjadi bagian dari hidupku yang kecil. Dunia yang tak kusadari sudah bersamaku selama hampir tiga tahun.

Aku juga tidak menyangka, aku jadi punya mimpi karena mengenal dunia itu. Padahal dulu, tidak pernah kubayangkan aku bisa 'terjerumus' masuk ke dalam dunia itu.  Dunia jurnalistik. Bahkan, aku tidak tahu keberadaannya di hidupku, waktu aku masih bocah. Mungkin memang Tuhan telah merencanakan pertemuan kami yang seperti tidak sengaja. Yap... Awalnya unik, aku masuk ekstrakukuler jurnalistik tanpa ada alasan yang berarti. Itu awalnya. Alasanku adalah karena aku suka merangkai kata-kata menjadi lebih bagus dan berbau puitis. Jadi, harapanku masuk ekskul itu adalah supaya bisa merangkai kata-kata dengan kata yang tepat. Simpel kan?

Namun, dari alasan simpel dan awal yang biasa, aku jadi  tahu bahwa aku tertarik pada bidang sosial dan kemanuasiaan. Ini juga berkat guru jurnalistikku yang gaul dan asik. Dia mengenalkanku pada dunia yang sebelumnya asing. Dia yang membukakan mataku kepada dunia sesungguhnya yang luasnya bukan main. Ia juga sering bercerita tentang segala berita yang berbau politik yang kian rumit, membuatku eneg sama namanya persaingan politik. Tiada habis, tiada pula ujung. Oke kita sudah berbicara tidak jelas arahnya.

Dan sekadar untuk tahu, tahun pertama ekskul kami hampir ditiadakan karena peminatnya super duper sedikit. Akan tetapi, ibu kepala sekolahku keukuh supaya tetap berdiri ekskul ini. Akan tetapi, umur ekskul jurnalistik tidaklah panjang. Ekskul sudah tidak diadakan lagi sejak semester genap ini. Guru jurnalku sudah terlalu sibuk bekerja rangkap menjadi guru jurnalistik di sekolahku dan menjadi jurnalis sesungguhnya. Tentu lebih baik ia meniti kariernya yang baru dimulai itu, bukan?

Jika mengingat pengalamanku bersama jurnalistik, rasanya senyum tidak bisa lepas. Kita, anak-anak jurnalistik, itu kompak. Kompak bikin pak guru speechless gara-gara ngerjain buku jurnal males-malesan dan ngerjain tugas nulis yang bolong-bolong. Aku pernah ingat dulu, pernah suatu saat, satu ruangan kelas menjadi bau matahari gara-gara aku habis bermain basket. ”Maaf ya”. Kami juga pernah pergi ke pesta buku bersama, tetapi tidak semua anak jurnal ikut. Kami tidak banyak memiliki waktu pergi bersama. Dan disayangkan, umur ekskul hanya seumur jagung muda.

Walaupun begitu, aku senang bisa mengenal guruku itu dan bidang yang digelutinya. Suatu saat nanti, aku akan bekerja dibidang itu. Mungkin guruku menjadi seniorku, atau bahkan atasanku. Wah... Senang rasanya membayangkan hal itu.

Aku masih aktif menulis (di blog ini), walau sudah tiada ekskul jurnalistik. Tetapi memang tidak sesering dulu, karena tugasku yang menumpuk dan kebiasaan burukku yang suka menunda, membuatku sulit membagi waktu dan bersantai. Dont try this at home, buddy!

Hehe. Itulah secuil cerita dariku. Untuk potongan-potongan cerita yang lain, biarlah menjadi pelengkap kehidupanku dan orang yang mengenalku saja.

Oh ya.. Ada satu kalimat yang ingin kusampaikan untuk guruku:
”Bapak masih ngutang ajak kita, anak-anak jurnalistik, makan-makan ngerayain kelulusan bapak loh.” 

08 April 2012

Bioskop Jadul

Hari ini gue ngelewatin daerah Senen karena bokap gue yang mau bernostalgia dengan makanan masa kecilnya, lemang. Terus mata gue berhenti pada suatu gedung tua tidak terawat dengan poster-poster film yang keliatannya tidak masuk dalam jejeran film di teater bioskop ternama. Bahkan, gue ga pernah liat tuh gambar dan judul dari filmnya. Nama bioskopnya... gue kurang tau.

Lalu, keinginan gue memuncak, sehingga hal tersebut mendorong gue untuk terus berbicara tiada habis tentang ketertarikan gue mencoba masuk, melihat apa yang ada di dalam, melihat harga teater macam itu, melihat studionya, melihat bentuk loketnya, melihat tempat jual  popcorn. Dan, berhasillah gue membujuk bokap gue.

Setelah bokap gue beli lemang, makanan sejenis ketan, di pinggiran jalan, kami bergegas ke teater keren itu. Senyuman lebar tersungging di wajah gue selagi jalan dengan tak lupa membawa semangat gue yang berapi-api.

Sesampai di sana, banyak mata yang melihat gadis cantik dengan ayah di sebelahnya (mulai kumat guenya). Itu wajarlah buat orang yang jarang liat cewe seger dan manis macem gue (ohhh). Tapi serius, gue berasa aneh gitu pas lewat. Secara mana ada cewe chinese yang ke sono. Di sana ga pake pintu kaya di XXI gitu, langsung tangga. Di tangga banyak mas-mas duduk (sumpah ini ga penting). Gedung itu gede dan isinya cuman ada 2 studio teater saja. Selebihnya di belakang ada lapangan kosong, dan itu dipake maen bola sama abang-abang.

Terus, gue langsung liat loketnya. Dan memang sama seperti gedungnya, loketnya masih belum diperbaharui atau direnovasi. Secara otomatis, mata gue mencari-cari dimana tulisan harga nonton film di sana: Htm: Rp 5.000. Bisa gila ga sih? Coba aja bayangin lu nonton The Raid, Wrath of The Titans, The Hunger Games, Act of Valor, Battleship, John Carter, Lorax dengan harga Rp 35.000 saja ?????? Wow. Tiap hari gue jabanin nonton deh tuh. Sayang, itu cuman khayalan iseng gue doang.

Tapi ada satu hal yang paling menarik adalah bunyi reel filmnya dan kualitas gambar yang didapat!! Lu bener-bener kaya dibawa mesin waktu dan lagi ada di tahun 90-an. Bunyinya tuh yang kaya di pelem-pelem lama, gambar nya juga. Bedanya ini udeh berwarna dan ada duo subtitle (Inggris-Indonesia). Gaul ga tuh?

Sekedar info, studio bernamakan 'Grand'  ini dua kali lipat lebih besar dari teater bioskop yang sering Anda temui di Jakarta kota. D gedung tua itu ada dua studio.  Mungkin daritadi Anda bertanya-tanya bagaimana saya bisa tahu banyak hal. Ini semua berkat bokap gue yang meminta ijin dari bapak penjaga pintu untuk melihat-lihat studio. Kebetulan studio 1 itu sedang memainkan film chinese (dan gue juga gatau itu apa). Luuuuasssssssssss banget. Sayangnya, kegelapan menghalangi pandangan gue melihat sekeliling. Pengen sih gue coba nonton di sana. Tapi.. bokap gue lagi gak mau.

Sayang sekali lagi, gue ga mengabadikan foto itu. Tapi lain kali, gue pasti akan bawa kamera terus jeprat jepret tiap sudut bioskop jadul di Jakarta kota (semoga ada kesempatan ke sana, sebelum gedungnya ditutup).
Jadi, mau tau solusi menonton murah? Ayo ke Senen!

26 January 2012

Satu Lagi Tahunku

Menyenangkan
Mendebarkan
Membosankan
Menyedihkan
dan tak terlupakan
berbagai rasa bercampuraduk di tahun lalu

Senang dan tidak, kurasakan dengan satu lagi tahunku
kadang ada waktu untukku memikirkan bagaimana agar tahunku tetap dan tidak berubah
karena komunitasku yang membuat duniaku berwarna
bisa memberikan warna cerah dan ceria
Namun tak jarang menorehkan warna mendung pekat di duniaku
itu membuatku ingin cepat dewasa dan menikmati hidup yang kata orang dewasa 'keras'

Banyak kepingan-kepingan yang berantakan di duniaku
membuat lupa setiap detil kejadian
tapi kepingan itu berarti untukku
setiap keping memiliki arti
dengan diriku sendiri, keluarga, teman, pengganggu hatiku
beribu ekpresi tekumpul menjadi satu porsi seperti gado-gado
WAW...
membuatku penasaran apa yang akan kulalui di tahunku yang lebih satu

29 October 2011

Pelajaran dari Seekor Ikan

pernah ga ngeliatin ikan seharian?
gue sih enggak
dan sangat diyakinkan gada orang normal yang menghabiskan waktunya buat ngeliatin hewan imoet ini
tapi, apa yang sedang ikan-ikan itu lakukan di dalam akuarium kecilnya?
pas gue perhatikan sejenak sih.. Jeduk-jedukkin kepala ke kaca akuarium
mungkin untuk memecah kebosanan
secara dia harus berdiam di dalam tempat kecil gitu, berbagi pula sama 'teman hidup'nya

gue ngeliatin sambil ngelamun dengan wajah kusut (ngantuk campur bete: wajah kusut) saat sedang menunggu nyokap di sekolah. Luama banget. Kira-kira kalo ditotal gue telah berada di sekolah lebih dari 12 jem loh (out of context). Menunggu tanpa menggerutu itu sulit banget. Karena itu gue benci nunggu. Menunggu itu membosankan.

saking bosennya, muncullah pertanyaan-pertanyaan aneh bin sinting di benak gue selagi melihat kotak akuarium di deket tempat gue duduk. Gimane tuh ikan yang sebejibun idup tanpa bosan di wadah kotak mini.

jadi konklusi untuk menghindari kebosanan... berguru pada ikan supaya bisa nahan kebosanan mungkin dengan cara-cara gila lain selaen jeduk-jedukkin kepala ke tembok.  *tertawa garing

23 October 2011

Jadi cowo susah

Jadi cowo susah
dan gue juga ga memungkiri bahwa ada enaknya jadi cowo
(cewe juga susah gampang sih)

Mreka ga bisa ngomong segala sesuatu saat itu juga. Ga kaya cewe yang biasanya langsung ga terima di tuduh sesuatu. Mungkin mereka ngerti itu ga akan memperbaiki keadaan, makin buruk iya.
Gue pernah nonton film ada cowo dituduh bunuh ayah seorang cewe. Trus si cewe dateng. Temen cewe ini nih yang sebenernye jahat, dia buru-buru bunuh ayah itu dan kasi senjata ke cowo tadi. Tepat sebelum si cewe ngeliat bapaknya ga bernyawa. Si tersangka yang bersalah cuman bisa diem doang.
Coba pikir selaen diem dia bisa apa? Kalo cewe sih langsung ngelak, trus jelasin sejelas-jelasnya sampe cewe tadi percaya.

Ga bisa curhat sembarang tempat. Kebanyakan lelaki tertutup dan sebenernya itu ga enak (menurut gue sebagai cewe). Kalo masi kecil kan juga malu, mo curhat ama sapa coba? mama kah?

Trus kalo menurut gue sih ga enak yah ga bisa ngungkapin kesenangannya atau kegundahannya di fb
Contoh: Gue ketemu cewe yang gue suka! Dia ngeliat gue lagi. Seneng banget. Aduh deg-degan deh
atau
Ah.. Sebel deh hari ini ga bisa liat si itu
wew
Rada gimana gitu kalo ngeliat cowo macem gitu

Gue baca di sebuah majalah
Yang ga enaknya jadi cowo harus membagi uang jajan nya buat uang pacaran
Kenapa gitu yang cowo harus dirugikan saat sedang bersama pasangan?
hehe

Trus ga bisa omong dari belakang. Kalo iya, berarti dia loser. Laki-laki itu diharuskan berani. Cewe lebih longgar alias ga usa seberani itu. Wajar kan cewe suka gosip. Kalo cowo gosip trus cuman berani omg belakang rada ga cocok gitu. Sosok lelaki harusnya menyelesaikan masalah dengan kontrontasi! yoi dah. Itu baru real man. Konfrontasi bukan cuman berantem yeh meaningnya.

Kalo ada bahaya atau rintangan menyeramkan (jurit malem kek atau apalah itu), yang ada di barisan paling depan adalah laki-laki.

Gue yakin masih banyak kalo mo di list down di post ini
Tapi jangan pesimis dulu
Ada juga kok enaknya

Bisa ganti baju kapanpun dan dimana aja
Bisa ngupil dengan santai di depan umum. Bahkan kentut dengan tampang innocent
Bisa pulang malem-malem (beda kan ama cewe, lebih bahaya), lebih bebas juga ga banyak aturan ini itu
Truss kalo kepepet ada pohon yang bisa jadi sarana toilet umum
dan lain-lain sebagainya


hehe
ini kerjaan iseng gue dan pikiran iseng gue
okay it's just gags buddy
jangan sakit hati ;)

22 October 2011

Mobil Jeruji Besi

Kemaren pas jalan pulang gue liat iring-iringan mobil tahanan
gatau kenapa ada gitu rasa takut dan seram
dan mereka berenti di sebrang mobil yang gue naekin
untung ga ada kepala muncul dari tuh jendela
ga bisa juga sih karena ada tralis (tiang-tiang besi gitu deh kaya di jendela rumah anda) di setiap jendela
mereka cuman bisa megang tuh tralis ato nyuri-nyuri ngeliat jalanan kota glamor
di mobil yang lebih keliatan kaya mobil bank
diantara dari mereka ada yang berdiri
bayangin aja di mobil kaya gitu yang berdiri
kan pendek
pasti pegel ;p

gue juga gatau mereka akan dibawa kemana
dibebaskan atau dipindahtempatkan
gue juga gatau mereka kenapa ada didalam
korupsi uang negara atau kasus pidana laennya

gue liat tangan mereka yang lagi megang tralis
trus gue ngebayangin
gimana pasrahnya dia sama apapun yang lebih tinggi dari kuasa manusia
menyerahkan idup selanjutnya di penjara yang keras
mungkin idup dan bebas
mungkin juga mati di penjara sebelum bebas
padahal punya beban tanggungan di luar sana (kalau ia adalah seorang sadar akan tanggung jawabnya, soalnya ga dikit orang masuk penjara dan ga sadar sama keadaan sekitar dia plus kesalahan dia, well itu cuman prediksi gue sih)
tangannya sudah lemas pucat dan dingin menanti kubus gelap yang menghantar kesengsaraan lebih dalam
pukulan dari yang udah lama mendiami kubus itu
jadi anjing peliaraan yang punya (dari pengalaman gue nonton film)
atau bisa aja si orang numpang di kubus orang malah jadi pemelihara anjing-anjing itu

serem ga sih
kalo ampe bener bayangan gue ini
beh beh beh

07 October 2011

Seagames 2011 diambang tanya

GILA
satu kata buat mereka
bukan otaknya yang bermasalah
tapi pilihan mereka menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah membuat gila

Emang apa sih pertimbangannya sampe biarin Indonesia yang bisa dibilang lemah dalam manejemen waktu dan kondisi jadi tempat seagames diadakan. Bisa diliat dari kerjaan stadion yang bakal dijadikan tempat seagames di Palembang. Dibuat super ngebut. Trus gara-gara cepet-cepet kerjaan jadi ancur semua. Kursi stadion uda kropos alias rusak. Padahal belom juga dipake duduk. Dimana-mana kerusakan. Ada banyak tempat yang baru terlihat kerangkanya. Dan kalian tau kapan seagames akan dimulai? PERTENGAHAN September@*&y&%^*#$!!! Kurang 30 hari lagi (mungkin kurang!!!!) sampe hari H.

Harga diri sih boleh. Jadi tuan rumah gitu loh bangga. Tapi kalo seagames diundur gara-gara Indonesia. Apa harga diri bangsa ga lebih terinjak-injak? Dibandingkan dengan nolak sebelum jadi calon tuan rumah? Kalo gue, jauh lebih malu seagames diundur karena kelalaian suatu negara yang ga bisa liat keterbatasan dana (ditelen mulu sih ama pejabat), tenaga kerja. Jangan samakan tenaga kerja kita dengan kinerja orang Jepang oke. Jauh banget. Jadi jangan ngarep hasil kerjaan nya bakal sama juga.


Apa seagames bakal sesuai dengan rencana?
Jawabannya ada di tangan mereka para pekerja yang lagi bekerja keras dengan bercucuran keringat sebiji salak (lebay.com).
Kalo seagames ga diundur (harus), yang paling berjasa tuh mandor ama tukangnya.
Semangat ya, tukang bangunan!
Pahlawan Seagames :P

01 October 2011

Pelajaran dari Seorang Waria

Oke gue tau banget judulnya ga jelas. Jujur sejujur hati gue yang paling dalem, gue liat mereka pede banget jadi cewe. Jalan uda kaya punya nenek moyangnye, pede dengan yang apa yang dia pakai saat itu. Bagai role model yang lagi jalan gaya catwalk. Emang sih dia ga menerima diri apa adanya (bahwa sebenernye dia seorang cowo). Tapi ada kan pelajaran yang bisa kita ambil yaitu... coba jadi banci (NOO!!!). Bukan itu, tapi coba percaya diri dengan apa yang lu kenakan atopun yang ada dari dalem diri lu, teman!

Pengen deh bisa pede kaya mereka...

11 September 2011

Kebiasaan yang paling bikin gregetan

Kebiasaan orang Indonesia, tepatnya orang Jawa tulen adalah..... kalo jalan lama betuul. Ga tahan nunggu di belakangnya. Rasanya pengen minggirin tuh badan orang biar ga nutupin jalan. Dan itu yang kedua, setelah jalan kaya putri Solo malah nutupin jalan orang. Beh... ga enak banget deh.  Yang parah tuh ye kalo masi muda, jalan uda kaya nenek seratus taon (hiperbola). Oke, jujur emang kalo lagi asik ngobrol ama temen di jalan bisa ampe ga kerasa nutupin jalan orang. Tapi sebaiknya, kita punya kepekaan terhadap kenyamanan orang lain kan?

Dan yang satu lagi ngekiin kalo ngantri, banyak maunya. Bukan maksud buka aib. Tapi ini nih sangat mengganggu kesejahteraan umum seperti yang tertulis di UUD 1945. Please bisa kan mikirin orang laen yang ada di belakangnya.

Kalo jalan lama-lama juga lu rugi waktu plus rugiin orang. Untungnya apa coba? Kaki jadi ga lebih cape kah? Ga juga deh. Dan ini bukan berarti lu harus jogging di mall supaya ga ngerugiin orang. Bukan itu purpose gue nge-post ini. Cuman kesadaran supaya mikirin orang lain aja. ;D

Emang simpel. Tapi dari hal se simpel kertas dilipet pun, orang tau gimana lu idup, efisien ato lemot-lemotan.