Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

31 December 2013

Misi Suci Tan

Tan punya misi suci yang mendorong kami sekeluarga hijrah ke semarang. Misi suci ini dijalankan oleh setiap keluarga bermarga Tan. Kenapa gue bilang ini misi suci? Misi ini memang sangat sulit dilakukan. Bahkan baru pertama kali dimunculkan setelah sekian lama dikubur. Mungkin untuk keluarga besar lain, apa yang gue sampaikan menjadi hal yang sepele dan mudah saja dilaksanakan, tetapi menjadi sebuah tantangan untuk merealisasikannya di keluarga ngkong (baca: kakek) gue dari mama.

Nama Misi            : Reuni
lokasi                 : Sebuah hotel cukup bagus di kawasan Kopeng, Salatiga
target                 : Seluruh anggota keluarga Tan
durasi                 : Tiga hari dua malam

Bisa dibilang berlebihan sih dengan sebutan misi suci. Cuman menurut gue, reuni merupakan sebuah ritual yang seharusnya menjadi penting untuk dilakukan tiap keluarga besar. Buat apa? Menjalin relasi. Manusia itu diciptain Tuhan bukan cuman satu, tapi ada pasangannya. Emang dari awalnya diciptain, manusia ya butuh yang namanya relasi. Itu sebabnya misi ini menjadi misi suci karena menyatukan ikatan persaudaraan yang putus itu menjadi menyatu dan harmonis. Yang tadinya gamau kenal dan gamau tahu jadi saling perhatian. Di situ tuh keindahannya punya relasi. 

Nah. Gimana bisa indah kalo ga saling kenal? Agak ironis memang ketika baru tahu bahwa orang asing di tempat duduk pojok sana adalah saudara sepupumu. Itu yang awalnya gue alami ketika pertama kali menuntaskan misi suci ini. Aduh. Ga nyaman banget gak kenal siapa-siapa, cuman kenal ortu sama dua saudara kandung elu. Mati kutu di dalem ruang pertemuan.

Yang hadir ditaksir mencapai 50 orang. Dari 50 orang itu, tidak lebih dari 20 orang yang gue kenal, padahal semuanya adalah saudara gue. Gue berasa parah banget. Ini adalah saudara-saudara yang harusnya menjadi teman main gue ketika liburan looh dan teman hidup gue ketika gue mulai mengkerut. Kok belom pernah ketemu seumur hidup?

Seiring waktu berjalan, suasana beku dan dingin semakin mencair dan meleleh. Di malam terakhir, gue dan segenap saudara bermain kartu sampai terkantuk-kantuk. Gelak canda tidak luput memenuhi kamar yang mungil itu. Seneng rasanya misi ini bisa begitu berhasil dan memuaskan setiap anggota keluarga.

Gue inget nyokap pernah cerita waktu masih kecil hubungannya sama sepupu-sepupu itu dueeeeket banget. Eh.. Tau-tau pas udah berkeluarga, hidup sendiri-sendiri jadi susah banget buat ngumpul-ngumpul kaya gini. Waduh gue mikir nasib gue dan generasi ke-4 Tan. Sekarang gue ga deket sama sekali sama sepupu gue, gimana entar kita semua berkeluarga? Bisa jadi ga ngenalin pas ketemu di mall. Sedih banget kalo ampe beneran kejadian.

Gue selalu bilang sama diri gue bahwa di dunia ini kita ga hidup sendirian. Kalo kita bahagia, kita perlu membagikan juga kebahagiaan itu kepada sesama. Well, yang paling deket ya saudara kita dong? Dan ketika kita sulit, siapa yang akan membantu kita keluar dari kekelaman dan mendorong kita untuk melihat ke depan, jika itu bukan saudara kita?

Dan misi suci kami semua berjalan dengan mulus. Misi ini tidak berakhir tahun 2013. Tidak juga tahun depan. Misi ini tidak boleh berakhir di generasi gue!

Menjalin relasi itu indah. Dan akan lebih indah lagi ketika relasi itu adalah relasi yang harmonis.

Itu kan kata mutiara dari gue. Bokap gue punya sendiri. Bakal gue tulis sebagai kata penutup di post ini "pertemuan yang mengesankan akan meninggalkan makna."

Ga bagus kualitas fotonya.
Yang penting misi kami jelas telah berhasil!

04 May 2013

Ini Perpisahan

Tak kusangksa secepat dan sependek ini
Semua memori dibiarkan mengambang
Berhenti tanpa ada penutup yang indah
Tampak begitu cepat
Nyatanya memang cepat
Hanya sekedip mata
Engkau jauh di sana
Aku juga jauh di sini
Jarak

Perpisahan yang tidak wajar dan tiba-tiba
Membuatku ingin pergi saja ketika melihatmu
Menambah kepedihan yang sudah tertanam
Ada kau di sini
Hanya mengingatkan semua yang telah terjadi
Semua yang tinggal kenangan
Yang percuma rasanya untuk diingat
Terlalu menyedihkan untuk tahu telah sampai pada ujungnya
Tak terduga

Mungkin memang Tuhan ingin ini
Tuhan ingin berakhir sependek ini
Ketika manusia tidak mengerti rencana-NYA
Biarkan Tuhan yang atur dan mengertikanmu kelak

Aku semakin percaya bahwa kata itu tidak eksis di dunia
Kata yang selalu berusaha kualihkan dari perhatianku
Sekarang kata itu puncak keraguan

22 March 2013

Perjalanan dan Kado Untuk Sang Musafir Hawa

Tulisan ini berbicara tentang bagaimana perjalanan panjang seorang pemudi untuk mendapatkan sebuah KTP, sebuah identitas kebangsaannya. Yang perlu digarisbawahi adalah perjalanannya yang seorang diri saja. Hanya dia, niat dan kemauan.

Awal cerita dimulai dari meminta tanda tangan ketua RT, ketua RW, membawa data ke kantor lurah, sampai akhirnya proses pemfotoan diri. Ia lakukan semua sendiri. Tidak sekali ia datang ke rumah ketua RW untuk mendapat tandatangannya. Perlu tiga kali karena ketua RW yang dicari sedang tidak berada ditempat. Dan yang paling sulit dilupakan adalah hari ini. Mari.. Kurunut kronologisnya.

Kedatangan pertama kali ke kelurahan
Pakai celana pendek kotak-kotak. Langkah mantap dan semangat. Jalan kaki menuju kantor lurah. Matahari belum di tengah kota. Dari jauh melihat papan nama gedung. Masuk ke halaman gedung dengan agak merasa diri sang musafir keren. Namun, setelah masuk kantor, raut wajah berubah menjadi agak bodoh dan polos. Bertanya kepada seseorang di dekatnya perihal dimana ruangan membuat KTP. Kaget serta tak dapat berkata-kata, saat musafir ini tahu bahwa tidak boleh masuk ruangan dengan tanpa memakai celana panjang. Pulang ke rumah dengan keringat mengucur cukup deras, padahal baru saja mandi.

Kedatangan kedua kali ke kantor lurah
Mengenakan jeans panjang. Langkah mulai goyah. Menempuh rute dan kendaraan yang sama (berjalan kaki maksudnya) ke kantor lurah. Matahari mulai mengeluarkan sengatnya. Berhasil masuk ruangan dengan selamat. Menunggu. Berbicara dengan ibu-ibu, tidak tahu dia staf atau orang biasa. Sang musafir hawa duga, dia bekerja di sana. Kembali dikejutkan dengan apa yang dikatakan ibu tadi, perlu bawa akte lahir atau ijazah SMP. Sedangkan musafir ini hanya tahu perlu bawa surat dari ketua RT-RW dan Kartu Keluarga. Terpaksa pulang. Pulang lagi dengan kucuran (sekarang) deras keringat dan dengan kesia-siaan yang dibawanya. Bertemu dengan kakak sang musafir yang bingung. Musafir bercerita singkat. Segera pergi meninggalkan kakaknya dengan wajah masih bingung. Naik ke kamar orangtua sang musafir. Mengobrak-abrik kamar dengan tergesa-gesa, tanpa merapikannya. Makan po*ky, sambil mengademkan diri di depan kipas angin. Siap berpetualang lagi.

Kedatangan ketiga kali ke kantor lurah
Wajah sudah tebal melihat ekspresi orang-orang bingung melihatnya bolak-balik melewati gang. Berjalan dengan lelah, tidak lupa juga keringat. Tidak ingat, entah matahari langsung membakar kulitnya atau awan menyelamatkan kulitnya yang sudah gelap. Memasuki kantor lurah. Langsung duduk tanpa izin. Bertanya dengan berani apa yang sedang ia tunggu. Tidak kaget ketika tahu ia harus menunggu. Saat itu pukul 09.58. Orang yang mengurus KTP sedang rapat dan akan kembali pukul 11 siang. Musafir memilih untuk menunggu. Memasang earphone di telinganya. Mengambil buku 'Sup Gibran' dari dalam tas. Membuat diri senyaman mungkin. 10 menit berlalu. 20 menit. 30 menit. 35 menit. Ia mulai sulit membuka mata. Pandangannya kabur karena dilanda kantuk. Pukul 10.35. Seseorang bicara padanya, rapat akan selesai pukul 3. Ia juga duga begitu. Pulang dengan sia-sia dan dengan membawa nomer telepon kantor lurah dan dengan earphone yang masih menempel di telinga. Jalannya sudah tidak lurus. Kakinya berat karena mengantuk.

Kedatangan keempat kali ke kantor lurah
Menelpon kantor lurah pukul 2 kurang. Dari telepon tahu bahwa pertugas sudah bisa diajak bekerja sama. Mengenakan pakaian yang sama. Pergi dengan langkah semantap pertama kali. Berjalan dengan earphone yang setia menemani. Kali ini tanpa bawa buku dan tas. Malas dengan pernak-pernik tidak penting. Ke sana, ya untuk KTP saja. Yakin kali ini adalah kedatangan yang terakhir kalinya. Matahari sudah lelah menyinari bumi. Energinya sudah tidak sekuat tadi. Ramai di ruang mengurus KTP. Bertemu ibu itu lagi. Tebakan sang musafir hawa benar soal kedatangan kali ini. Sang musafir hawa langsung ditanyai petugas. Difoto. Juga ditanyai petugas apa tidak puas dengan fotonya dan ingin mengulang. Sang musafir dengan mantap berkata tidak. Ingin cepat selesai. Disuruh meletakkan jempolnya ke alat sensor sidik jari, lalu menekan jempolnya. Musafir hawa mengakhiri dengan bertanya kapan ia dapat KTP-nya. Akhirnya yang ditunggu-tunggu. Selesai juga. Pulang dengan hati senang. (Yang ini tambahan saja. Pergi ke Indo***et. Menghadiahkan dirinya sendiri sebungkus keripik dan permen kenyal, setelah menempuh perjalanan yang panjang. Tanpa pikir gendut dan batuk.)

E-M-P-A-T kali. Sang musafir empat kali ke kantor lurah (bolak-balik) dalam satu hari. Panjang bukan harinya? Ya. Memang benar panjang dan melelahkan. Namun, sang musafir malah berpikir lain. Ia pikir perjalanan ini seperti kado ulang tahun ke-17 dari keluarahan tersebut. Menyadarkannya dan membuatnya melihat diri sudah dewasa. Sudah seharusnya bisa menyelesaikan masalah sendiri dan mandiri. Itu kado yang ia dapat dari perjalanannya hari ini. Usia 17 tahun dan KTP adalah tanda bahwa ia perlu bersiap-siap menghadapi dunia dan realita yang jauh berbeda dengan dunianya dan lingkungan sekolahnya.

Perjalanannya masih belum selesai karena kedatangan keempat kalinya bukanlah kedatangan yang terakhir. Senin depan, sang musafir hawa akan pergi sekali lagi ke kantor lurah dan akan benar-benar resmi memiliki kebangsaan dan tercatat dalam buku arsip kependudukan bahwa ia ada di bumi Indonesia, berlokasi di Jakarta, kota yang selalu melek, Ibukota Tanah Airnya. Dan pula bukti bahwa pemudi ini asli made in Indonesia.

Setelah tahu betapa panjang perjalanan yang telah dilalui, ia bangga.

Saya bangga.

03 March 2013

Perihal Lari Sore dan Senayan

Ya, Minggu sore lalu, tepat seminggu, aku pergi jogging. Inginnya sih pergi ke tempat lain selain di rumah untuk sekadar membaca buku dan mendengar musik dengan autisnya, tetapi memakai kata jogging sebagai topeng, biar keliatan lebih keren. Memang benar aku lari sore, 4 kali keliling Gelora Bung Karno, setelah itu baru aku duduk menikmati  kesendirian.

Untuk pengetahuan nih, haha, aku yang menjadi sopir kali ini, bukan papaku. Benar-benar dari awal perjalanan hingga sampai dengan selamat di Senayan. Dan mesin tidak mati selama aku mengendarai. WohoO!

Banyak hal yang kutemui dan kupikirkan saat sedang lari sore. Hanya lari sore. Bayangkan ya betapa Tuhan menciptaan manusia begitu unik, aku dan kamu. Hanya dengan sebuah lari sore saja, banyak ide mencuat di benak seseorang, termasuk diriku.

Setiap kali aku lari, aku selalu mengobrol. Entah kau sebut ini normal, atau aneh. Aku bicara pada diriku. Paling sering yang isinya demikian dalam bentuk kata yang beragam:
Jas, lu bisa satu puteran nih. Inget perut rata. Woii perut lu bakal rata. Ginian tuh sepele. Masa ga kuat. Ini bikin lu sehat. Lu barusan makan kan? Nah sekarang waktunya ngebakar lemak-lemak jahat itu.
Atau
Buset dah ini ibu-ibu jiwa muda banget sih ampe silau gue ngeliat dandanan nya.
Atau
Nih orang sih gaya larinya lucu parah loh, ga boong. Kurang laki amat. 
 Atau
Pokoknya gue ga boleh kalah sama bapak itu. Gue bakal lari terus sampai dia berenti lari. 
Disisi diriku satu lagi berkata: Sumpah nih bapak kuat banget. Jantung gue bisa copot kalau ikutan lari sampai ini bapak berenti lari. Ga kuat. Udah deh. Gue kalah. (dan biasanya gue beneran langsung jalan lunglai dengan tampang abis disiksa majikan)
Saat sedang  jogging, paling tidak ada satu orang, perempuan biasanya, yang memakai pakaian yang benar-benar tidak cocok untuk dipakai untuk berolahraga, sering kita sebut salah kostum/saltum. Antara terlalu norak, terlalu ketat sehingga memperlihatkan seluruh lekukan dan lipatan tubuh mereka, terlalu berlebihan, ataupun terlalu ingin berpenampilan seperti anaknya yang masih belia. Seringkali, mereka ini menjadi pusat perhatian karena memang eye-catching, tidak aku sangkali hal ini.

Ada yang karena pakaian yang dikenakan membuat dirinya eye-catching, ada pula karena gaya larinya. Gaya lari ada berbagai macam, mulai dari yang lucu sampai aneh. Mulai dari gaya lari perempuan seksi sampai gaya lari orang macho. Semuanya ada deh di sini. Ada orang berlari, pasti ada tukang minuman. Ada tukang minuman, ada juga tukang bakmi, tukang siomay, dan ibu penjual tempe mendoan yang siap melayani orang yang lelah dan berkeringat. Semuanya seperti saling terkait.

Bagiku, itu bukanlah masalah atau gangguan, tetapi menjadi keunikan saat lari sore. Aku senang  melihat mereka, laki-laki maupun perempuan, yang rajin berolahraga. Walaupun memakai pakaian dan sepatu seadanya, ada juga yang pakai sendal bahkan, mereka sadar akan pentingnya menjaga tubuh untuk tetap sehat.

Mungkin bukan saja untuk sehat, tapi juga keuntungan buat yang lagi kasmaran. Tidak sedikit loh orang yang masih muda lari bersama. Lucu deh lihatnya. Tampang mereka yang begitu menikmati sesi berolahraga, rasa dunia milik berdua dan ingin menghentikan waktu. Tawa canda riang yang terlihat dari air muka. Bukan cuma pasangan muda yang kulihat, pasangan tua juga ada. Aku lihat mereka begitu semangat dan aduhai... masih mesra. Aku ingin bisa seperti mereka saat tua nanti. Bisa jogging atau jalan sore bersama orang yang dicintai sambil mengingat masa muda up and down, juga saat cinta mereka mulai bersemi. Indahnya hidup ini. Hehe.

Akan tetapi, semua suasana nyaman dan tentram yang telah dirajut selagi berlari santai dihancurkan oleh asap kendaraan. Ah... Aku benci mereka. Mereka egois. Tidak tahukah mereka, orang di sini, untuk mencari udara bersih dan sehat? Mereka malah membuat orang-orang tidak betah. Mereka hanya ingin enaknya saja. Inginnya sejuk sedirian, tetapi mengotori udara di jalanan Gelora Bung Karno. Inginnya santai di dalam mobil dengan mendengar lagu, tetapi membuat setiap orang yang melewati kendaraannya harus menahan bau asap berbahaya itu. Bisakah kalian matikan mesin, keluar dari kendaraan kalian, dan nikmati udara segar selagi masih ada dan bisa dihirup?

Kekesalan pada mobil seketika hilang saat melihat keceriaan anak-anak kecil melihat seorang paruh baya penjual gelembung melakukan atraksi gelembung. Mereka seperti berada di dunia khayangan dan dunia mimpi. Tawa mereka meledak dan senyuman tak henti ketika gelembung menghiasi sekeliling mereka, membuat gigi-gigi yang belum banyak tumbuh dipamerkan secara otomatis. Aku juga liat anak perempuan usia dua tahun-an yang berkaus kutang dan celana dalam pink memakai sendal bapaknya (mungkin) juga asyik dengan gelembung yang bergerak-gerak terbawa angin. Mau orang tua mereka banyak uang atau banyak hutang, semua anak, tidak terkecuali,  memang suka gelembung.

Di satu sisi aku melihat banyak keluarga yang ceria, membawa sanak saudara pergi bersantai di Senayan, menikmati angin sore yang menyejukan. Makan bersama-sama yang harganya terjangkau bagi orang awam, walau makanan sederhana. Di sisi yang lain, aku melihat nenek tua, sendirian tanpa ada pembeli, berjualan ala kadarnya dipojokan pintu masuk stadium. Kadang aku melihat ketidakadilan di dunia ini. Mungkin karena aku melihat dan mengerti separuh saja, atau mungkin seperempat dunia ini saja ya?

27 February 2013

Dimensi Kehidupan

Gue kira hidup anak SMA cuman gitu-gitu aja. Ya di rumah, hang-out, nonton bareng, sekolah, main, dan kembali ke rumah, dan akan terus seperti itu. Gue kira hidup anak SMA bakal ya gini dan ga akan lebih dari ini. Menyenangkan, tapi flat.

Ternyata mereka punya dimensi yang lain, yang baru gue sadari sekarang. Mereka punya cara sendiri untuk  mewarnai kehidupan. Ada yang penuh dengan bulu babi, tajam-tajam, penuh bahaya, tetapi katanya sih menantang. Ada juga yang penuh dengan kapas, yang empuk dan memanjakan. Banyak sekali jenisnya.

Dunia gue itu kecil banget. Kalau dihiperbolakan tuh, kaya gumbalan debu di galaksi bima sakti. Itulah luasnya dunia, bahkan lebih lagi.

Untuk Kak Christo

Sabtu dan menganggur. Gue ga kenal dia siapa. Sama sekali. Tapi terus gue ngeliat ada seseorang yang gue tahu di UI nge-ReTweet sesuatu yang aneh. Kira-kira dia omong gini "gue terharu baca ini. Cepet sembuh ya, To! (terus ada linknya gitu)" Muncul radar stalker gue tiba-tiba. Lalu, gue buka link tersebut. Link itu mengantar gue ke sebuah perjalanan kisah yang mengharukan.

Ia adalah mahasiswa UI yang mengalami kejadian naas saat perjalanan menuju kampus. Itu bulan Desember, dan sekarang masih dalam proses penyembuhan, karena emang kecelakaan itu berakibat fatal buat fisiknya Kak Christo. Untungnya cepat ditangani dokter. Sampai sekarang sih berita yang gue baca dari blog, dia sudah baik-baik. Kalau mau tahu lebih jelas, coba deh baca ini, Teorema pagi namanya. Dan ini pesan-pesan dari teman-temannya kak Christo yang pernah bosan kasih dukungan buatnya di rumah sakit. Ada beberapa memo yang bikin mata gue berkaca-kaca. Beneran berkaca-kaca. Antara benar-benar tersentuh jadi berkaca-kaca, atau karena terbawa suasana, entahlah yang mana.

Sesuatu yang gue tangkap dari bacaan di dalam blog itu adalah ketulusan hati seorang teman. Gue terharu ngeliat temen-temen Kak Christo yang berusaha keras buat bantu biaya pengobatannya, yang gue yakin ga kecil. Bayangin aja Ka Christo perlu operasi buat tempurung kepalanya, dan nanti untuk tulang belikatnya yang patah. Yang pasti itu butuh biaya yang besar. Temen-temen Kak Christo ga habis akal buat bantuin Kak Christo. Mulai dari jual buku berisi puisi dan tulisannya Kak Christo, mug, tas ramah lingkungan, sampai buat acara musik gitu. Gue yakin itu bukan pekerjaan yang mudah. Namun, gue rasa setiap tetesan keringat yang mereka keluarkan, air mata yang telah tercucur dan kata-kata semangat yang tidak pernah berhenti keluar dari mulut mereka demi untuk kepulihan teman mereka. Keren banget ga sih? Ini gue kira baru yang namanya pertemanan sejati.

Gue mau beli buku itu dan juga menulis soal Kak Christo karena gue ngeliat kerja keras temen-temen Kak Christo yang ga main-main. Gue ngehargain banget :)
Good job kakak-kakak!
Dan cepet sembuh ya, Kak Christo! Walaupun gue ga kenal dan ga tau elu. Gue tau bahwa lu dikelilingin sama  temen-temen yang baik dan super care sama elu. Kalo lu udah sembuh sepenuhnya, keliatannya lu perlu peluk temen lu satu-satu, kak. Semangat ya!

23 January 2013

cuek menjadi perlu

di dunia ini, di sekitar kita, banyak hal ga perlu diketahui
ga perlu dicari tahu
ga butuh juga untuk dicari tahu

semua itu baru disadari setelah gue tahu hal-hal yang ga perlu diketahui
memang benar
sebenarnya ga penting buat gue tau
tapi kenapa harus kepo dan bersikeras buat tahu hal itu?
informasi itu cuman nyusahin, menyita waktu, membuyarkan fokus gue untuk hampir segala aspek kehidupan remaja menjelang kedewasaan ini
bahkan, terkadang itu malah menyakitkan lu sendiri
bodoh ga sih?
pengen tahu sesuatu, tetapi sesuatu yang udah pasti bakal nyakitin perasaan elu

gue sadari satu hal
cuek itu ternyata ada gunanya juga
untuk kasus macam gini
butuh banget yang namanya cuek
ga usah liat kanan kiri omong apa
biarin aja
tutup kuping lu dan jalan terus
jangan mau diganggu sama urusan yang bukan menjadi porsi lu untuk tahu

24 July 2012

Apa yang gue dapet di FISIP Summit UI 2012

Tanggal 30 Juni gue ke UI. Gue mengikuti kelas simulasi FISIP UI. Kepanjangan FISIP itu fakultas ilmu sosial dan ilmu politik. Itu sih kata bokap. Gue ngambil kelas simulasi komunikasi. Dan di sini gue ga bakal cerita banyak. Sebenernya gue cuman mau ngepost kutipan dari kakak-kakak mahasiswa UI maupun alumninya.


Sebelum masuk kelas simulasi, ada talkshow sama Runner Up Putri Indonesia, Mapres (mahasiswa berprestasi).  Berikut kutipan dari omongan mereka.


Kak Andhyta Firselly Utami bilang passion itu adalah sesuatu hal yang tetap bakal lu kerjakan sepanjang hidup lu jika uang sudah ga dipakai lagi sebagai alat pembayaran, uang itu dihilangkan fungsinya. Pekerjaan yang bakal lu lakukan semasa hidup lu, itulah yang namanya passion. 

Dia juga bilang menurut film 'Hugo', dikatakan bahwa manusia itu kaya bagian-bagian dari sebuah mesin yang besar. Kakak Andhyta setuju dengan filosofi film itu. Ia omong bahwa setiap mur dalam Ipad memilki tujuan kenapa ia ada dan dipasang dalam Ipad tersebut, bukan tanpa tujuan mur itu dipasang. Manusia diciptakan ada maksud tertentu yang sudah Tuhan tetapkan. Perlu kali ya gue kasi liat kutipan kalimatnya:
"I'd imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured, if the entire world was one big machine, I couldn't be an extra part. I had to be here for some reason."
Sedangkan kak Amanda Zevannya bilang kalau apapun fakultas yang kita ambil, ujung-ujungnya bakal ke passion kita. Jadi, kalau ada kasus buruk menimpa seperti kalian masuk satu jurusan yang ga kalian suka alias paksaan dari berbagai pihak. No need to worried.


Kira-kira begitu yang gue tangkap dari talkshow orang-orang keren ini!
Ini foto-foto yang gue ambil di kampus masa depan #ngarepbanget#






06 July 2012

This world isn't that bad kok

Kembali lagi gue menemukan orang-orang baik di dunia. Gue juga pernah nulis di blog lama gue yang temanya sama : Polisi Baik.

Kemaren gue nemenin oma ke dokter buat konsultasi kaki oma gue sakit. Terus pas gue masuk ruangan, dia sedang menelpon nci-nci yang keliatannya kerabatnya sedang kritis. Cukup lama tuh gue dianggurin. Celingak celinguk doang gue. Tapi gue ga jadi gondok gara-gara dokternya ramah banget. Baik banget. Berasa kaya ion-ion positif bertebaran seiring ia berbicara. Terus yang jarang, dia nanya tentang gue sekolah dimana. Waw banget ga sih? Gue tau itu cuma obrolan basa-basi belaka. Namun, itu yang menurut gue yang namanya ramah.

Berikutnya, supir angkot. Gue temenin oma gue ke tanah abang. Pulangnya gue naek angkot karena emang jalurnya pas banget ngelewatin gang rumah gue. Apa yang si Abang lakukan sampai gue terbuai? Simpel kok. Dia memperlakuakan penumpang dengan manusiawi. Dia nurunin orang dalam keadaan mobil angkot itu berhenti sepenuhnya (kalo yang jahat tuh ya, kita belom turun semua kaki kita, udah jalan kali tuh mobil). Terus dia sopan omongnya sama penumpang. Dia memastikan kembali orang mau turun dimana. Simpel banget ya kan? Tapi ga semua supir angkot bisa ngelakuin hal itu loh.

Gue curhat gini tentu ada tujuannya. Buat orang yang selalu negative thinking sama dunia ini, come on lu harus liat sekitar loe. Banyak juga orang yang berhati mulia dan baik kok. Jangan terlalu pesimis sama dunia dan manusia di dalamnya :)
Coba buat dirilu tersenyum dan lebih bersemangat, ntar pasti dunia jadi berubah. Percaya deh.

10 June 2012

Goes Sepeda Bareng Ayah

Cielah judulnya jaman doeloe banget ya. Biar asoi.  Hahaha. Masih fresh nih ingatan yang keluar dari pikiran gue. Jadi langsung aja ya gue ceritain perjalanan gue setengah harian kemaren. Perhatian! Gue sampaikan terlebih dahulu, ada banyak foto-foto yang akan membuat Anda terpesona. Jadi, saya tidak bisa tanggung jawab atas reaksi Anda selanjutnya saat melihat foto wanita eksostis (: Terima Kasih atas perhatiannya.

Pagi bener, jem 7 pas, gue dibangunkan secara paksa. Dan setelah gue sadar saat itu waktu menunjukkan pukul 7, gue langsung buru-buru mandi. Byurr.. Gue buru-buru karena rencana tadi malem tuh gue bakal naik kereta dengan keberangkatan jem 7. Ternyata terjadi pergeseran waktu akibat cuaca yang mendung. Gue menyempatkan waktu untuk memotret kendaraan gue yang akan gue tunggangi selama kurang lebih 6 jem. Asiiik.
Yang dibelakang ini anjing ndut peliharaan gue.
Dan di belakang adalah mobil Civic yang antik, bukan tua.
Perjalanan pun dimulai...

Gue mulai bersepeda ke luar rumah jem 7.35. Ke luar gang. Ke jalan raya. Dan sampailah gue di stasiun Juanda dengan sepeda biru sewaan (cuman punya satu sepeda, yang dipake papa). Papa gue membeli 4 tiket: papa, gue, dan dua sepeda. Kami naik yang keberangkatan jem 7.50. Sekadar tahu, harga satu tiket kereta commuter line itu enam ribu perak. Kalau, yang ekonomi gue gak tahu tuh, ga liat sih.









               












Untung banget kereta apinya sepiii. Jadi nyaman dan tentram. Sesampai di sana, langsung pemandangan lingkungan Universitas Indonesia, calon universitas gue mendatang #ngarep#. Langsung deh gue sama bokap keliling-keliling kampus sampai dengkul sudah ingin berteriak minta dicopot saja dari persendian. Terus kami juga melewati fakultas hukum, bidang yang ingin gue dalami besar nanti #wooow#.



Akhirnya, papa mulai mengeluarkan kamera digital kesayangannya dan jeprat jepret. Jeprat jepret. Jeprat jepret. Gue sampai dongkol di ubun-ubun. Gue bukan jiwa model sih jadi agak salah kalau mau ajak foto-foto tiap waktu. Maap papa.


Berikut hasil mahakarya ayah tercinta:
Pertama-tama, gue pajang dulu muka papa gue yang paling kece dan ganteng sedunia.


Tampang gue yang udah ga enak, pertanda capek berfoto

Gaya foto kesukaan gue: 'Lompat'
Awalnya malu-malu, tapi kok jadi ketagihan ya?

Jangan liat tampangnya. Liat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya :D


Dari senyuman termanis

Berubah menjadi muka monyet marah. Hehe
Pengen banget ke sana buat liat-liat buku apa aja yang ada di dalem.
Namun, apa daya gue bukan mahasiswa sana dan bukan siapa-siapa di sana.
Jangan liat wajah gue. Entar lu mimpi buruk.
Lu liat keceriaan yang terpancar dari wajah  perempuan ini 

Karena papa tahu gue dongkol, kita akhirnya lama berkeliling dengan sepeda. Pas lagi jalan-jalan di jalan raya yang tertutup portal, gue menemukan orang-orang suara emas. Asiik banget suara kumpulan orang itu, sekitar enam orang. Cantik bener suaranya. Yang cowo nyanyi dengan elegan dan tetap merdu, yang cewe nyanyi dengan lembut. Masing-masing memperlihatkan keistimewaan suaranya, tetapi suaranya tetap nyatu. Sayang banget pas gue duduk di pinggiran buat denger mereka nyanyi, malah udeh selesai latiannya. Gue gatau sih mereka siapa, harusnya mahasiswa UI tentunya, melihat dari tempat sekeliling mereka berlatih. Papa gue bercanda dan bilang mau kali ya mereka dikasi goban terus nyanyi satu lagu aja buat kita, sambil ketawa jahil.

Setelah penat dan dengkul gue sudah lelah berteriak di bawah sana. Papa berniat makan di resto seafood di luar area UI. Papa pesen gurame bakar madu, kelapa, sama gue soda gembira. Tempatnye sih cozy. Bolehlah. Nih gue kasi liat gambarnya biar pada ngiler.



Itu kira-kira pukul 11 an. Bokap gue nanya apa mau sepedaan lagi, tentu gue jawab iya. Karena:
1. Belum tentu gue bakal ke sini lagi, kecuali kuliah di sini #makinngarep#.
2. Rugi dong nyewa sepeda jauh-jauh di Tanjung Priok, kalau pakai sepeda bentar doang.

Jadi, kita keliling, keliling, keliling lagi. Yang paling cape tuh pas tanjakan. Rasanya pengen turun dari sepeda terus tuntun aja sepedanya. Namun, sebagai pesepeda propesional gue tetap genjot tuh sepeda sambil teriak-teriak seksi. Papa gue mengatakan bahwa kami sudah benar-benar menjelajahi seluruh kampus UI #plokplokplok#. Keren bukan?

Terus sampai di suatu tempat, papa gue ngajak buat liat-liat kampung di luar area UI, soalnya di deket situ ada pintu ke luar. Jalannya nuuuuuuurrrrruuuun gitu. Gue udah mikir aja dalem hati, entar pas naek gue bakal menderita nih. Banyak rumah yang bentuknya kaya kos-kosan, tapi agak kumuh sih. Terus, berenti di perempatan gang. Mumpung lagi sepi juga, bokap gue beli aer supaya bisa duduk. Gue beli permen cupacup an. Duduk-duduk dan merenggangkan otot. Lalu, bersiap untuk berperang melawan tanjakan-tanjakan ekstrim. Wuff... Ruarrbiasa :D

Kaki gue udeh lemas deh. Terus abis dari perkampungan itu, kami langsung bersepeda menuju stasiun. Pas mau ke stasiun kan naik tangga noh, hati gue udeh keciiiiil aje. Nih sepeda berat, gue juga udeh cape, bokap gue udah jalan duluan tanpa nengok ke gua, lengkap sudah penderitaan gue. Alhasil, banyak orang yang terharu ngelihat perjuangan gue bawa tuh sepeda naik tangga. BERAT SETENGAH IDUP. Namun, pas gue mau menyerah ada pangeran dengan polo shirt putih dan topi merah datang. Hehe. Dia bantu gue bawa sepeda ampe atas. Gue langsung sontak bilang thank you ya, Pak. Gue udeh ga mikir noh umur berapa, saking hopeless jinjing tuh sepeda naik.

Pas nyampe kereta, puadet banget. Gue udeh panik. Bokap juga panik. Roda kotor sepeda bokap gue kena pakaian orang lain, sedangkan stang gue keliatannya nyangkut di tangan orang lain. Gue dan bokap terpaksa naik di gerbong khusus wanita karena gue tadi berdiri dimana gerbong wanita berhenti. So, daripada gue membuang waktu dengan jalan ke gerbong lain (dan yang ga lucu kalo tuh pintu udah ketutup sebelum gue masuk) atau nunggu sejam kemudian untuk kereta berikutnya, mending gue masuk gerbong wanita. Selain itu, gue punya analisa lain, yaitu di gerbong khusus wanita itu orangnya lebih sedikit, jadi kemungkinan roda sepeda kena pakaian orang lebih sedikit daripada di gerbong umum. Penuh perhitungan kan hidup gue? Iya dong! Maaf bagi para pengguna kereta api yang merasa terganggu. Gue di dalem kereta sih beneran ga enak hati banget.

Gue berhenti di stasiun Tanah Abang, bukan di Juanda karena kalau gue mau naik kereta yang berhenti di Juanda, gue perlu nunggu kereta berikutnya, yaitu sejam kemudian. Jadi gue ga naik kereta yang itu. Dan lagi-lagi pemandangan yang tidak asing tidak gue senangi, tidak lain tidak bukan adalah tangga. Lu tahu apa reaksi gue setelah ngeliat tangga naiknya? Mangap segede-gedenya dengan tampang paling melas yang gue punya. Gilaaaa... Ini tangga kelewat tinggi. Di Juanda masih ada eskalator, tapi di sini gada!

Gue nunggu sampai sepi. Lalu, memberanikan diri untuk menaikki tangga tersebut. Emang b-e-r-a-t. Setelah bokap gue selesai memparkir sepedanya di atas, ia turun dan menggantikan gue bawa naik. Ehh... Pas mau keluar dari stasiun, ada tangga lagi, untung tangganya turun. Kalau katanya Pak Mario Teguh, hari yang syuuuper.

Finally, gue sampe di rumah dengan selamat sentosa. Ada lah 20 km dan mungkin lebih gue lalui dengan sepeda biru sewaan itu. Sebenernya asik bersepeda jauh-jauh, yang ga enak cuman gendong sepedanya. Kalau sepeda anak SD kelas 1 sih no prob. Tapi yang gue bawa kan sepeda gede. Overall sih, SEEERRRUUU. Apa sih yang ga seru kalau ada gue #narsismenggila#. Mending daripada tulisan ini makin ga jelas ujungnya, saya sudahi dulu ya. Sekian cerita saya. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

Bersepeda itu menyenangkan......!!!!

30 May 2012

Kadang

kadang ada saatnya kamu ingin selalu didengar dan memerintah
mungkin
kadang ada saatnya dimana semua terasa berantakan dan kamu sudah tidak tahan dengan pemandangan itu,
ingin terjun ke dunia entah berantah di bawah sana
kadang ada saatnya kamu membutuhkan pelukan dan dorongan dari seseorang di rumahmu, di sekolahmu, dan di lingkungan masyarakat
kadang ada saatnya kamu hanya ingin berdiam dan mengetik mengetik dan mengetik, ingin memiliki waktu hanya dengan dirimu sendiri
kadang ada saatnya kamu merasa semua masalah berada di titik puncak klimaks bercampur aduk lalu lalang di hidupmu, kamu ingin kabur saja, ingin menangis sekeras mungkin, ingin berteriak sampai tenggorokan yang menghentikan teriakanmu
kadang ada saatnya kamu ingin berlari, berlari menjauhi dunia ini karena kamu merasa tidak berada di dunia ini, kamu tidak menapaki tanah, kamu melayang-layang, kamu merasa terasing dari dunia ini
kadang kamu ingin memeluk dan mengecup pipi semua orang yang ada di sekitarmu karena senang hatimu tak kepalang
kadang ada saatnya untukmu berdiam sebentar saja tanpa gangguan, begitu penat dan lelah, lemas raga, lemas jiwa
kadang kamu merasa hidup di alam mimpimu dan saat kamu menyadari hal itu, hanya ingin menggerutu dan menggerutu
kadang ada saatnya kamu merasa jantungmu ingin terlepas dari badanmu karena berdekatan dengan pujaan hati, perebut hatimu, perebut waktu melamunmu
kadang ada saatnya kamu tidak mengerti apa kemauan mereka, menganggap kamu manusia paling bodoh dan  aneh karena kamu tidak dapat mengerti mereka sedikitpun
kadang kala kamu merasa kecil, lemah dan tak berguna di dunia ini, peranmu tidak ada maupun tidak dibutuhkan, bahkan terlintas pikiran 'aku ini apa? buat apa aku?'
kadang ada saat kamu tidak dapat mempercayai siapapun, bahkan mereka orang terdekatmu, seperti orang asing yang tinggal di rumahmu
semua ada waktunya
kadang

tenang, tak perlu tegang begitu atau merasa tak wajar
aku juga pernah mengalami hal serupa dengamu

27 April 2012

Diberi lebih karena memberi lebih

Judul yang saya berikan di atas dekat kaitannya dengan: melakukan sesuatu lebih dari ekspektasi. Kalau melihat dari kalimatnya, kita sudah membayangkan hal-hal yang mengawang di udara dan sulit digapai oleh orang semacam kita. Akan tetapi, saya dapat melihat dengan tindakan pekerja rumah tangga yang dibekerja di rumah saya. Walau hal yang kecil, tetapi saya bisa liat ketulusan hatinya dalam bekerja.

Weits biar ngerti kesinambungan antara judul dan kalimat 'melakukan sesuatu lebih dari ekspektasi', mari membaca  tulisan berikut ini. Jika kita melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang diperintahkan, suatu saatnya nanti kita akan menuai hasilnya. Kita akan diberi lebih oleh seseorang karena telah memberikan yang paling baik dalam melakukan segala sesuatu. Mungkin, pemberian itu berupa respect dari orang lain, nilai tambah pada diri, dan lain sebagainya.

Saya akan mulai bercerita soal pembantu rumah tangga di rumah saya. Dia seorang pembantu part-time, kerennya disebut begitu karena memang hanya bekerja dari jam 5 pagi sampai jam 9an. Bisa dong dibilang part-time job

Awalnya, saya merasa bahwa ia sama seperti pekerja yang lain, yang hanya bekerja jika disuruh saja. Namun, terlihat perbedaannya setelah beberapa bulan ia bekerja. Mama bilang tanpa disuruh, mbak saya ini sudah langsung mencuci setiap gelas yang terlihat di meja makan. Kadang gregetan sih, tetapi itu menurut saya menandakan keuletan yang berlebihan pada seorang pekerja rumah tangga.

Lalu, yang tidak disangka-sangka juga, ia membersihkan pegangan tangga, padahal biasanya selalu kotor dan diabaikan. Mbak saya bersihkan sampai mengkilat. Juga, rak pakaian saya yang amburadul karena tidak pernah saya tata, dirapikan sendiri tanpa ada perintah dari atasannya.

Yang saya tulis di atas memang hal yang seujung jari. Tetapi tidak tahu kenapa, saya menjadi begitu menghormati dia walau statusnya sebagai pekerja rumah tangga. Saya memang tidak memberikan reward berupa piagam ataupun piala untuknya, tetapi saya memberikan rasa hormat dan kagum padanya lewat bagaimana saya berbicara padanya dan tindakan saya terhadap dia. Walaupun, kata sebagian orang, pembantu adalah pekerjaan yang rendah.

Mbak saya tidak mengharapkan pujian atau kenaikan gaji saat melakukan hal tersebut. Itu keyakinan saya. Dan hal tersebut membuat saya lebih lagi menganggap keberadaannya daripada pekerja yang bekerja di rumah saya terdahulu, karena ia patut menerimanya. 

26 November 2011

I Cried For My Brother Six Times

Pengantar: Ini adalah cerita terjemahan. Gue gatau darimana dan true story ato bukan karena ini email dari papa gue. Ada sedikit kata-kata di sini yang gue ganti supaya enak dibacanya. Yang pasti mata gue berkaca-kaca pas baca nih tulisan (seriously!).
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan, yang hampir semua gadis di sekitarku memakainya. Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau menyuruh adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya.
 Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, lalu mengatakan,

“Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
 Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
“Ayah, aku yang mencuri!”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah marah besar sehingga terus menerus mencambukinya sampai ayah kehabisan nafas. Sesudah itu, ayah duduk di atas ranjang batu bata kami dan membentak,
“Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung (yang pertama). Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,
“Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki keberanian untuk mengaku. Bertahun-tahun telah berlalu, tetapi insiden itu terasa seperti kemarin saja. Aku tidak lupa dengan raut muka adikku ketika ia melindungiku. Saat itu, usiaku 11 tahun dan adikku 8 tahun.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP. Setelah ia lulus, akan masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas provinsi. Malam itu, ayah melamun di halaman, menghisap rokok tembakaunya, sebatang demi sebatang. Saya mendengarnya bisikannya,
“Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu memuaskan…”
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas
“Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata,
“Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi. Kurasa cukup bagiku untuk membaca banyak buku.”
Ayah mengayunkan tangannya ke pipi adikku, lalu membentak,
“Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika itu artinya  saya harus mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”
Kemudian, ia mengetuk setiap rumah di dusun untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,
“Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:
“Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Aku akan pergi mencari kerja dan mengirimkanmu uang.”
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku sambil menangis sampai suaraku hilang (kedua kali). Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20 tahun.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasil dari mengangkut semen di lokasi konstruksi, akhirnya aku sampai di tahun ketiga universitas.

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan,
“Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya,
“Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”
Dia menjawab dengan senyuman tersungging di bibirnya,
“Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku (ketiga kali). Aku membersihkan debu-debu yang ada di tubuh adikku, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,
“Aku tidak peduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku demi apapun! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan menjelaskan,
“Aku melihat semua gadis kota memakainya. Jadi aku pikir kakak juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20, dan aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan rumahku terlihat bersih daripada sebelumnya. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita tadi!”
Balasnya, sambil tersenyum
“Adikmu lah yang pulang lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan adikku. Melihat wajahnya yang kurus, rasanya seratus jarum menusuk-nusuk badanku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan membalut lukanya.
“Apakah itu sakit?”
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika aku bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu, bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku dan memunggunginya, air mata mengalir deras di wajahku (keempat kali). Tahun itu, adikku 23, aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku pindah ke kota. Sering suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu apa yang harus dikerjakan. Adikku juga tidak setuju, mengatakan,
“Kak, jagalah mertuamu aja. Aku akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
Suamiku menjadi direktur sebuah pabrik. Kami ingin adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Namun, adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras mulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku naik tangga untuk memperbaiki sebuah kabel. Tiba-tiba ia mendapat sengatan listrik, dan langsung dilarikan ke rumah sakit.Suamiku dan aku segera menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,
“Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak perlu  melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, lukamu begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami dari awal?”
Dengan mimik serius, ia membela keputusannya.
“Pikirkan kakak ipar – ia baru saja menjadi direktur, dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer, apa yang akan dikatakan orang-orang tentang suamiku, kak?”
Mata suamiku dan aku dipenuhi air mata (kelima kali), kemudian keluar sepatah kata dariku:
“Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?”
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Ia kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara bertanya kepadanya,
“Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,
“Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan sebuah kisah yang bahkan terlupakan olehku.
“Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu sarung tangan dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetar karena cuaca yang begitu dingin, sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakak saya dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu sulit keluar dari bibirku,
“Dalam hidupku, orang paling perlu aku berikan tanda terima kasih terbanyak adalah adikku.” Dia, orang yang paling berbahagia saat ini. Di tengah keramaian pesta, air mata menghujani wajahku dengan deras (keenam kali).

29 October 2011

Who cares about them?

“Tidak ada seorang anak yang ingin dilahirkan bersama virus mematikan di dalam tubuhnya
Mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan dengan penyakit yang mereka idap
Mereka masih kecil dan polos untuk mengerti kesulitan ini
Dengan orangtua yang telah dipanggil karena mengidap virus yang sama.”

Mereka yang saya maksud adalah anak yatim piatu karena orangtua mereka terserang penyakit AIDS.
Saya menonton sebuah dokumenter singkat di ChannelNewsAsia. Film itu membahas singkat hidup anak, bisa dibilang cukup beruntung, mengidap penyakit HIV dan masih ada yang merawat.

Berikut dua kisah anak yatim piatu di kampung China.

Yang pertama adalah anak perempuan sekitar umur 7 tahun. Dia cenderung memiliki sifat memberontak karena bingung bagaimana harus menghadapi penyakit ganas sebatang kara. Saya kurang tau siapa yang merawatnya. Tapi, ia punya seorang kakak perempuan yang tidak mengidap penyakit HIV. Calon suami kakak anak itu tidak tahu soal masalah penyakit HIV yang diidap anak perempuan itu. Kakaknya juga tidak berniat memberitahu karena takut calon suaminya membatalkan pernikahan yang berada di depan mata.

Dan yang kedua adalah anak lelaki, mungkin sekitar umur 3 tahun. Melihat anak kecil yang polos. Lucu. Tetapi ada kepedihan mendalam dalam hatinya. Ia terlihat sering bermain sendiri. Anak ini dirawat oleh orangtua asuh, sepasang suami-istri dengan sukarela menerima anak-anak asuh. Tetapi orangtua asuhnya memang tidak begitu mampu sehingga dia ‘dioper-oper’ ke orangtua asuh lain yang berniat merawat anak kecil itu

Saya tidak terlalu mengerti sih bagaimana mereka hidup karena keterbatasan bahasa saya(hehe). Tapi yang saya tau, dibagian akhir film itu tertulis kira-kira seperti ini

Ini adalah kisah anak yang beruntung mendapatkan donasi asing dari sekian banyak penderita HIV/AIDS di bawah umur. Masih ada ribuan anak di luar sana yang butuh pertolongan.

Mungkin saat ini kita masih belum mampu memberikan donasi karena belum menghasilkan uang. Kita bisa bantu lewat doa.

Tuhan, tolong mereka yang sedang hidup memprihatinkan, terutama anak-anak penderita HIV/AIDS. Kiranya Engkau memberikan pengertian atas segala cobaan dan kekuatan untuk mengalahkan kegentaran mereka. Supaya ada sukacita berlimpah dalam hidupnya.

Selipkan saja kata-kata ini dalam doa kalian.

10 September 2011

Benci "Selamat Tinggal"

Aku tidak suka mendengar suara kereta api dan 'klakson'nya yang penuh gelegar
memenuhi peron stasiun gambir
hal itu mengingatkanku pada satu hal
aku harus mengucapkan kata yang paling kuhindari

Aku juga tidak tahan dengan getaran yang dibuat oleh mesin-mesin kuno nan besar kereta api
ia pula yang mengingatkan ku pada hal yang kujauhi

Dadah
Selamat tinggal
kata-kata ajaib
yang sekejap membuat orang menitikan air mata

Aku benci melambaikan tanganku dan berkata: "Dadah!"
aku sentimen dengan mereka
Melambaikan tangan, tersenyum, dan berkata: "Selamat Tinggal"
Karena itu pertanda kehilangan orang yang kusayang
walau untuk sementara atau selama...

19 August 2011

Abang Ketoprak Kesepian Gak Ya?

Sore tadi gue disuru beli ketopraks ama mama gue. Trus terpikir di otak gue sesuatu... Gue mikirin abang ketoprak yang lagi bikin pesanan gue. Bukan karena dia ganteng ato keren (please deh). Tapi gue pikir soal abang yang kerja sebatang kara. Apa ga sepi gitu ya seorang diri keliling jakarta (ga nyampelah, pinggir-pinggir Jakarta maksudnya). Kalo cape ya cape sendiri. Makan juga sendiri. Dan kalo ada kesulitan harus bisa nanganinnya sendirian doang. Misalnya ban gerobaknya rusak, mana bisa dia telpon bengkel buat benerin tuh ban.

Dan seharian kerja, paling kalo beruntung bisa ngobrol sama pelanggan yang ramah dan welcome sama dia. Itu juga ga tiap hari kan. Yang ga enak tuh, pas kena semprotan hujan buatan dari pelanggan, ga dibayar pula. Memang buruk bener tuh nasib si abang kalo gitu

Mungkin aja anaknya di rumah lagi sakit, tapi ga punya uang buat beli obat. Padahal dagangannya belum cukup buat uang berobat. Kebayang ga beban yang dihadapin ama si abang ketoprak kita ini? Dengan otak yang semerawut kaya benang jahit kusut. Gada yang hibur juga. Dunia pasti uda kaya mo runtuh di matanya. Mo nangis juga ga bisa. Ga bisa ngapa-ngapain. Hal yang paling meyiksa, ada orang yang kita sayang menderita tapi kita ga bisa apa-apa.
Mungkin itu yang di alami abang ketoprak yang gue temuin ini.
Bisa aja.

Dari cuplikan singkat ini, gue mencoba melihat hidup dengan jangkauan yang lebih luas. Supaya melihat dunia lebih penuh lagi. Jadi bisa mensyukuri sama apa yang uda Tuhan kasi buat gue!
Jangan iri sama kekayaan orang lain
Iri sama orang ganteng ato cakep yang banyak fansnya
Karena semua manusia Tuhan ciptain punya porsi yang berbeda (ngutip dari guru gue)

Satu hal:
Jadi seorang abang jual ketoprak itu ga gampang, harus menahan rasa jenuh dan bosan yang tenggelam dalam keheningan. Cukup sulit buat gue kalo harus kerja sendirian, ga tahan. Salut ama abang dagang di seluruh Indonesia. 

06 August 2011

Hal Kecil Bermakna Dalam

Apa pernah terpikirkan oleh anda matahari yang kamu nikmati setiap hari memiliki pemandangan yang berbeda?
aku pernah memikirkan itu.
Atau langit butek (kena polusi setiap saat) dengan berhiaskan awan putih butek dikit mengisi hidupmu selama ini?
aku pernah memikirkannya.
Atau udara pagi yang menyegarkan jiwa dan ragamu?
oke kalo yang ini belom kepikir sebelum menulis dan agak tidak menyambung dengan tema.

Dan yang aku maksudkan adalah matahari yang kita lihat selama ini, punya keindahannya yang berbeda-beda. Ada yang merah jambu campur kuning campur oranye di pagi hari, dengan memancarkan cahya redupnya menembus awan. Indah betul! Tapi keesokkan harinya matahari bersinar terang seterang-terangnya, sampai mata sulit terbuka. Sering bukan melihat pemandangan seperti itu??

Tuhan memang hebat!
Tau kenapa?
Ia dapat membuat satu objek - yang jarang kita pikirkan keberadaannya - dengan pemandangan yang indah dan berbeda tiap waktu. Pasti masih banyak objek yang saya belum sadari selalu mengisi hari-hari saya dan anda.

Mungkin dulu, tidak terpikirkan oleh anda-anda bahwa Tuhan menciptakan dunia ini dengan sangat teliti dalam setiap karya-Nya - hal-hal yang kita anggap sepele, tapi memikat. Namun, sekarang sudah terpikirkan kan? Praise the Lord in the highest :D

23 June 2011

Mulut Untuk Sepotong Kejujuran yang berduri

Wah... Indonesia bolehlah cukup bangga dengan tindakan Siami yang masih memiliki kejujuran, patut diacungi dua jempol. Ya, saya saja bangga walau melihat dari kejauhan. Siapa sangka ada seorang wanita yang mempunyai nyali besar untuk berkata atas nama kebenaran? 

Kalau Anda masih belum menyambung dengan topik yang saya bicarakan. Saya akan menjelaskan singkat tentang ibu bertempat tinggal di Surabaya, Kecamatan Tandes ini. Permasalahan yang membawa petaka bagi keluarga Ibu Siami ini berawal dari niat baiknya, untuk melaporkan tindakan tidak pantas seorang guru. Bukan tindakan asusila, tetapi memaksa anak muridnya untuk memberi contekan pada murid lain saat UN. Anak itu bernama Al, anak Ibu Siami. Setelah menyebarkan berita tersebut, warga heboh tak karuan mendengar hal itu. Karena tidak terima, mereka mendemo rumah Siami. Tidak sampai di situ, Siami di usir paksa oleh warga sekitar dengan amarah yang meluap beserta caci maki mereka. Siami menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud dan menyangka juga permasalahan ini sampai diketauhi seantero negri. Ia hanya ingin keadilan dan kejujuran dari anaknya, Al.  Sampai saat ini, penyelesaian masalah masih belum tuntas. Tentunya diharapkan keluarga Siami tidak dirugikan dan dapat menjalani kembali hidup mereka dengan tenang.
(Dari sumber terpercaya: Om Google, setelah berita-berita disaring)

Sekarang dunia memang lagi terbalik. Yang jahat dipelihara baik-baik, dan baik didepak jauh-jauh. Lihat tindakan Siami dan perlakuan warga kampung terhadapnya. 

Coba tengok ibu rumah tangga tadi, ia mungkin tidak bersekolah tinggi seperti Anda sekarang ini. Tapi dari tindakannya yang berani itu, menandakan bahkan seorang yang biasa aja bisa melakukan tindakan besar. Dan sekaligus membuktikan bahwa Indonesia masih hidup di dalam kejujuran. Kalau saya berada diposisi Siami, mungkin saya tidak memiliki keberanian sebesarnya dan tetap diam. Memalukakan memang, saat menyadari kita membiarkan ‘kejahatan’ ini terus berlanjut dan mengakar di dalam hati manusia Indonesia. Tapi itulah yang terjadi sekarang. Dan kita perlu melanjutkan pekerjaan Siami, menjunjung tinggi kejujuran sebagai manusia beradab. 

Berkata jujur memang kadang menyakitkan hati dan menyusahkan raga, kejujuran yang berduri.